Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Jaladara Malam

bidak-bidak rasi mulai tergusur dari jendela malam
jatuh terinjak-injak di ladang perdu kelam membiru
kata bijak berperi mengutuk warna aroma muram
keluh kesah rendah kukira diri merenggut rindu.

sayup sayup sunyi terdampar deru jalanan malam.
seperti kelam pikiran mendengar celoteh otak cemburu
kiranya socrates muda membangun pilar di panggung kelam
tanpa sepatu bagaimana kaujelang rindu.

jalanan masih risaukan sirnanya deru
riuh bintang-bintang dan rembulan kian temaram
begitu pun aku masih menunggu jawab hatimu
atas apa yang kautanyakan kepada malam.

kini saatnya hilir mudik berujung sunyi
meski bulan memusing bahkan tenggelam dalam kutukan
mari menyingkir bertahan hidup adat sembunyi
bayangkan jiwa baru berdering indah rasa bisikan.

bisik gelap jangan diuntung sedalam samar
titik harap laju mengapung di dunia terang
ambil saja terang-terangan bila kau nanar
paska malam dirimu terlempar ke jurang.

kembalilah berhilir mudik ke rembang pagi
tenggelamkan kutukan malam ke laut sajadah
sisakan deru buat menganyam rindunya hati
padamu cinta kutatap geriap embun nan indah.

Iklan

31 Juli 2010 Posted by | Puisi | , | 1 Komentar

Jaladara

JALADARA

Iseng – iseng membuka daftar kata secara online dalam Kamus Bahasa Sanskerta di http://alangalangkumitir.wordpress.com/kamus-sansekerta-indonesia/ jala : 1 jala; 2 air; jalada : air, mendung; jaladara : mendung, awan; jaladhi : laut; jaladri : laut; jalanidhi : laut, samudra; jalantara : talang air; jalatarangga : gelombang. Awalnya memang jaladara yang berarti mendung atau awan. Namun saya terlanjur mengkategorikan syair – syair saya ini dengan istilah jaladara. Kalau saya kategorikan pantun tentu jadi bahan pembelajaran yang tidak berkompeten. Biarlah tetap dengan istilah jaladara yang di dalamnya terkandung makna “mendung cinta”. Bentuknya mirip syair atau mirip pantun, tetapi berusaha membebaskan diri dari sampiran dan isi serta rumus persajakan. Sampiran dan isi serta rumus persajakan boleh dikata menyesakkan dada, manakala anak-anak mempelajari atau menulis pantun. Dengan demikian jaladara lebih mudah dan asik ditulis oleh kalangan anak-anak maupun remaja. Di samping itu untuk merakit puisi anak-anak secara umum belum cepat memasukkan unsur-unsur pembangun puisi tersebut.

Beberapa jaladara yang pernah saya tulis sebagai berikut :

1. Jaladara Pagi

batu batu telak membisu
menyandung pagi jalan berliku
dengan rindu kau tahan gegas
meranggas perdu sabarmu lepas

lagu cinta meniti derita
mengalun indah merentang sunyi
keberangkatan tersampai sudah
di pintu pagi aku bersimpuh

2. Jaladara Siang

dinding cinta begitu rupa
gegas bergeming aneka warna
mekar melati mengukir rasa
indah sabda menjangkar sukma

rebah siang membumi gundah
telaah rindu menyapa terang
debar hati menjarum duri
padamu ramah hanya ilusi

3. Jaladara Sore

pucuk dihujan menyandera kelam
angin berisik mengerdip senja
sampai padamukah rintik rindunya
di buritan semu dirimu sayup sayup menjauh

kembali ke jalan pulang
bersama gerimis membendung panjang
ratap senja liar mengembara
rintiknya semata doa

4. Jaladara Malam

besi-besi rapuh mendaki
mengikis gulita rebah membumi
tanpa hadirmu menuntun hati
sawah ladangku tergenang sunyi.

kokok ayam menikam sunyi
riuh bersarang aneka jalang
pada dirimu berkalang mimpi
bertanam harap menghujung malam

Demikian iseng – iseng membuka daftar kata secara online dalam Kamus Bahasa Sanskerta ini berakhir dengan memandang kata “jaladara” sebagai sejenis karya sastra pantun atau syair, yang isinya bernuansa “mendung cinta” muda-mudi. Harapan saya melalui jaladara anak-anak berlanjut mencapai kompetensi puisi lama (pantun, syair, gurindam, seloka, talibun) dan puisi baru (puisi bebas).

24 Februari 2010 Posted by | Artikel | , , | Komentar Dinonaktifkan pada Jaladara

Jaladara Jiwa

Jaladara (2)

hari hari berbunga merah

meratapi tumpahan darah

kilat cahaya menembus pagar pagar

muka demi muka hangus terbakar.

hari hari berbunga kuning

gelora jiwa berkeping keping

luka hati belumlah kering

datang amarah menampar kuping.

hari hari berbunga putih

mekar melati kemana perginya

bekal cahaya pudar semata

menanti dirimu tiada sua.

hari hari berbunga biru

pekik jiwa tetap merindu

menyapa diri rasa tak tentu

berpaling gundah arwah cintamu.

hari-hari berbunga jingga

depan kerumun menyaji jiwa

jejak embun menimang raga

bias cahaya lepas seketika.

hari-hari berbunga kenari

riuh ombak membentang bahari

mendampar busa ikhlasnya hati

kembali sunyi ke alam mimpi.

hari-hari berbunga pandan

akarnya keras liuk memendam

cantikmu lepas berdandan

memikat hati menimang dendam.

15 Februari 2010 Posted by | Puisi | , | Komentar Dinonaktifkan pada Jaladara Jiwa