Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

menulis

MENULIS
Menulis adalah sebuah proses mempertahankan diri dari serangan penyakit hati dan kebodohan. Melepaskan ‘uneg-uneg’ ke dalam sebuah fiksi atau mengunggah gagasan ke dalam karya ilmiah menjadikan benteng hati yang kokoh karang tiada retak diterpa ombak kehidupan.
Akan tetapi, tidaklah mudah melepaskan diri dari berjejalnya ‘uneg-uneg’ menjadi bersih diri dan ikhlasnya hati. Begitu pula sulitnya merangkai diksi yang layak untuk ditebar ke dunia luar. Betapa ‘uneg-uneg’ ini bagaikan katak dalam tempurung. Hidup semata menunggu retak tempurung, di antara kegelapan dan kekerdilan diri menjadi terkurung.
Apalagi dalam dunia nonfiksi, mengunggah gagasan ke dalam suatu karya ilmiah bukan pula suatu hal yang mudah. Kesombongan data dan gagapnya kajian teori menjadikan diri ini semakin bertambah tidak mengerti. Ditambah minimnya pisau analisis yang aku miliki betapa angan-angan semakin jauh dari langit fantasi.
Serangan penyakit hati ini begitu bertubi-tubi. Dalam bahasa Pak Kyai berjudul iri dan dengki. Begitu pula nuansa kebodohan ini semakin membelit dalam diri. Dalam bahasa Eyang Guru disebut hambatan psikologis. Betapa inginnya mengerjakan apa pun yang lain agar terkesan sibuk, asal bukan menulis. Akankah engkau biarkan hidupku ini menjadi halusinasi.

Iklan

21 September 2011 Posted by | Puisi | | 2 Komentar