Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Sirna

Sirna

bunga – bunga liar bermekaran sepanjang jalur pendakian. riuh siul pecundang melengking malu dari ranting ke ranting. sapa salak ramah burung – burung rimba kurusetra paska baratayuda.  angin menyeret sunyi  ‘kayon’ tertancap tegak dipotret waktu. entah berapa jengkal tetes – tetes darah tertumpah saat raga rebah di tanah. mengalir sungai deru memeras tangis merah terjarah. lukisan senyum kebebasan negri indah mengubur kelam angkara. hingga sirna.

Iklan

20 Februari 2010 Posted by | Cerpen | , | 1 Komentar

Kang Sastro Tokoh Imajiner

Empat puluh hari setelah terkubur kegelapan, Kang Sastro bangkit lagi. Di kehidupan berikutnya ia tetap tak berubah visi. Sebagai pernah dipekikkan oleh Bung Karno : “Sepak terjang seseorang akan kembali kepada kepribadian yang mendasari jiwanya”.

Akulah Kang Sastro tokoh imajiner di balik kubur mimpi.  Jangan bangkitkan lagi amarahku. Aku merindumu sebagai jiwaku. Aku menyapamu sebagai diriku. Sungguh taknyaman sembunyi di liang mimpi. Gelap tanpa tatap. Mata mengabur. Bumi terus uzur menggugur.

Biarkan aku bangun lagi. menganyam rindu pada mimpi-mimpi pagi. Memberi siul pada embun yang ikhlas lepas dielus matahari.

kata temanku : “Kudoakan agar matamu tak buta membaca abjad dunia. Kudoakan agar telingamu taktuli mendengar sabda nabi”. Temanku itu memang penyair sufi. Dan aku mengagumi. maka biarkan aku hidup bersamamu. Berilah aku kesempatan lagi. Bukan sekali, tetapi berulang-kali. Berulang-ulang dan berkali-kali.

Manakala pagiku tiba, seperti puisi kartini : “beri aku bunga melati, yang mekar di lubuk hati”. Lubuk hatiku pun luas, bukan seluas matahari, tetapi seluas matahati, seluas pula matakaki. Maka aku kan melangkah ke mana-mana, tak lupa membawa hati.

Aku juga ingin bicara. Agar mulutku tak kelu mendengar dongengmu.  Dongeng jejak di negeri entah. Jalan menuju tiada berpeta. Dihadang malaikat bertanya pula … Wahai manusia siapakah Tuhanmu. Wahai umat siapakah nabimu. Lorong-lorong itu harus dijawab. Dengan benar dan bertanggung jawab.

Mata-mata penghuni cinta. Kutemui di jagat semesta. Lewat mawar merah bermekaran pula. Kemana mekarmu aku ingin bertemu. Memandangi nasib jagat kelana. mengitari dunia bukan sekedar maya. Kepadamu kutitip saran. Cintailah sesama manusia.

Operasi Seroja yang pernah kujaga. Mengingatkan diri pada Seruni. Senandungnya menganyam rindu. Menuju senja bumi perkasa. Tertimbun malam tanpa kata-kata.

Suara siapa pernah menyapa. Penyair Online juga pabriknya. Syair-syairnya membumi kala. Menyeret jiwa ke medan jaga. Kita berbaris untuk siaga. Menuju kubur sebelum dipendam. Siapkan segala tarian jiwa. Mengikis kutuk membuang kantuk. Maka malam berubah selera menjadi pagi yang bening semata.

Putri Nadiva juga cerita. Tentang gelembung informatika. Menyeberangi lautan global. Mendekatkan yang jauh-jauh. Mengakrabkan yang sudah dekat.

Sungguh indah rasa berbagi, maka biarkan aku di sini.

15 Februari 2010 Posted by | Cerpen | | Komentar Dinonaktifkan pada Kang Sastro Tokoh Imajiner

Klosa Senja

Klosa Senja

Pucuk dihujan menyantap kelam. Angin berisik mengerdip senja. Sampai padamukah rintik rindunya. Di buritan semu dirimu sayup sayup menjauh.

Luka lama mengapa kau kata. Buritan senja angin memulai. Dia sakit akupun iba. Bisu semata mungkin obatnya.

Kuraba malam dengan jiwa. Kuseret kantuk tanpa peraduan.Terbengkelai jalan menuju harapan. Getar roda membising senyap.

“Tamu. Tamu. Tamu”

Mereka meluncur dari berbagai penjuru. menganyam jarak jauh menempuh. Jika tak iba bukan jiwa namanya. Duduk beringsut di kursi tua. berpandang sapa tentang norma-norma. Laju waktu melenggang lama. Simpang siur beragam cerita.

“Pulang. Pulang. Pulang”

Bisik hati ini pecundang. menggamang kerja menumpuk angka. Tapi rasa tetaplah jiwa. Harus berjaga di kursi tua.

Di luar bulan menunggu. mengancam langit ke medan tuju. Menerpa bayang kian tak tentu. Dan aku berdoa slalu untuk tidak beranjak dulu. Sebelum malam terlanjur hilang.

Tak menunggu kursi tertata. Bergegas pula mengikut jarak. Menderet pikiran merancang harapan. Tetap saja waktu menunda.

Berangan di jalanan … semakin sepi sendiri.

Segala yang harus kukerjaan sudah tertunda.

huufttt capek dech.

9 Februari 2010 Posted by | Cerpen | | Komentar Dinonaktifkan pada Klosa Senja