Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Pelangi di Atas Ceblung

 

….
Tidak seorang pun berani mendekati sosok tersebut. Bahkan Mbah Marto ujung tombak petani penggarap di ngarai sisi timur melenggang sambil berpura-pura tidak melihatnya. Gerimis yang memperkelam suasana senja itu membuat kaki-kaki para penggembala itik terduduk lemas di bawah perdu “kangkungan” yang mulai rebah di ujung tiap pematang timur.

Ceblung

Ceblung

….
Senja tinggal beberapa kerdip mata. Sukri belum juga angkat bicara. Keranjang di sampingnya belum penuh benar. Rumput di tiap pematang nyaris berwarna basah dan kusam. Sulit bagi Sukri untuk merumputnya.
….
“Kri…..” teriak Mbah Marto sembari menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Sukri.
….

 

10 Mei 2012 Posted by | Cerpen | | 1 Komentar

Biarkan Sungai itu Mengalir

Biarkan Sungai itu Mengalir

Meski kini kuseberangi dengan ringkik kuda besi, anganku terasa mengalir di atas sungai deru. Dan jembatan waktu itu menjadi sebuah ingatan yang tak mudah berlalu. Begitulah saat-saat banjir masa lalu, dirimu senantiasa hadir menemaniku.

Wahai kawan, masih ingatkah sungai romantis yang pernah kita seberangi. Dan demi rindu maka kautuliskan dalam buku harianmu kemudian kaukirim padaku begini. “Kali Progo 2 April 1983, hujan mempercepat kelam”. Setelah sholat zuhur jam menunjukkan pukul 2, Riyadi temanku datang ke kostku di Sapen Tegal III/88A mengajakku jalan-jalan ‘ngepit’ keliling Yogyakarta belahan barat. Kamipun berangkat. Di Jln. Solo seorang cewek bersepeda, berbaju putih anrok biru, kami berduapun berusaha mengejarnya. Tunggu episode berikutnya … “.

Ahai,  aku sudah lama menunggu kawan.  Mana kelanjutan episode itu.  Seperti sungai waktu yang terus mengalir rindu, dan muaramu kini di pantai pasir tentu.  Ah, Pesisir utara atau selatan belahan barat atau timur semuanya persada indah dinanti.

Krui, 30 tahun yang lalu. Di situlah tanah lahirmu. Yang pernah kauceritakan padaku. Yang kini tetap kurindu. Sejak kita dipisahkan oleh gelora zaman dan sulitnya menggapai sebuah dataran. Kekeringan betapa sulit mengalirkan sebuah perbedaan.

Meski hanya dalam angan, tiadalah pernah kita pungkiri seonggok petualang. Begitupun ketika gerimis teramat santer mengetuk-ketuk pintu malam maka bulan beralih dari persembunyian.  Di antara ladang dan persawahan kulihat dirimu cuma menangisi sebuah puisi yang hilang.

Aku ingin diam, tetapi rasa ini sungguh tak terdiamkan.  Waktu pun terus berjalan.  Detik demi detik menyentak pikiran. Geloranya begitu mengantarkan. Pada hitungan untuk memulai.  Pada bilangan yang kadang menentukan.  Ke kanan atau ke kiri arah pijakan. Hidup sungguh berlomba dengan harapan. Begitulah aku setia menantikan.

Sepanjang air masih lestari hadir. Persahabatan ini belum berakhir.  Kita tetap sebangsa dan setanah air. Biarkan sungai itu mengalir.

8 Maret 2011 Posted by | Cerpen | | Komentar Dinonaktifkan pada Biarkan Sungai itu Mengalir

Kutipan Cerita Anak

Cindelaras

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. “Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.

Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.” Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Pesan moral :
Kebaikan akan berbuah kebaikan sedang kejahatan akan mendatangkan penderitaan.

dikutip dari : E-SmartSchool.com

22 Mei 2010 Posted by | Cerpen | | Komentar Dinonaktifkan pada Kutipan Cerita Anak