Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Jenis Penilaian Autentik

JENIS PENILAIAN AUTENTIK DALAM KURIKULUM 2013

 

Sesuai Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014, penilaian autentik meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Instrumen dan teknik penilaian sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya (sebelumnya dikenal dengan penilaian antarteman), dan jurnal. Teknik penilaian pengetahuan meliputi tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Tes lisan dapat berupa observasi terhadap diskusi, tanya jawab, dan percakapan. Teknik penilaian keterampilan mencakupi praktik, portofolio, dan projek. Teknik penilaian keterampilan meliputi keterampilan abstrak dan keterampilan konkret. Penilaian keterampilan dilakukan menggunakan: (1) unjuk kerja/kinerja/praktik, (2) projek, (3) produk, (4) portofolio, (5) tertulis.

  1. PENILAIAN SIKAP

Kurikulum 2013 menuntut pembentukan sikap melalui kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan (Sani 2014:206). Sikap bermula dari perasaan yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Kompetensi sikap yang dimaksud dalam panduan ini adalah ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang dan diwujudkan dalam perilaku (Sudaryono 2012:78).

Penilaian kompetensi sikap dalam pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur sikap peserta didik sebagai hasil dari suatu program pembelajaran. Penilaian sikap juga merupakan aplikasi suatu standar atau sistem pengambilan keputusan terhadap sikap. Kegunaan utama penilaian sikap sebagai bagian dari pembelajaran adalah refleksi (cerminan) pemahaman dan kemajuan sikap peserta didik secara individual (Kemdikbud 2013:3).

Kurikulum 2013 membagi kompetensi sikap menjadi dua, yaitu sikap spiritual yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Sikap spiritual sebagai perwujudan dari menguatnya interaksi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan sikap sosial sebagai perwujudan eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan.

Pada jenjang SMP/MTs, kompetensi sikap spiritual mengacu pada KI-1: “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”, sedangkan kompetensi sikap sosial mengacu pada KI-2: “Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya” (Kemdikbud 2013:5-6).

Acuan penilaian adalah indikator, karena indikator merupakan tanda tercapainya suatu kompetensi. Dalam konteks penilaian sikap, indikator merupakan tanda-tanda yang dimunculkan oleh peserta didik, yang dapat diamati atau diobservasi oleh guru sebagai representasi dari sikap yang dinilai. Teknik dan bentuk instrumen teknik observasi, penilaian diri, penilaian antarpeserta didik, dan jurnal. Secara umum, pelaksanaan penilaian sikap sama dengan penilaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan yaitu harus berlangsung dalam suasana kondusif, tenang dan nyaman dengan menerapkan prinsip valid, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh, menggunakan acuan kriteria, dan akuntabel.

Data penilaian sikap bersumber dari hasil penilaian melalui teknik observasi, penilaian diri, penilaian antarpeserta didik, dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik sedangkan jurnal berupa catatan pendidik (Sani 2014:204).

 

  1. PENILAIAN PENGETAHUAN

Penilaian pencapaian kompetensi pengetahuan merupakan bagian dari penilaian pendidikan. Penilaian pengetahuan dapat diartikan sebagai penilain potensi intelektual yang terdiri atas tahapan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi (Anderson & Krathwohl dalam Kemdikbud 2013:41 ). Penilaian terhadap pengetahuan peserta didik dapat dilakukan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan (Sani 2014:205). Pada Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014, istilah tes lisan diganti dengan observasi terhadap diskusi, tanya jawab, dan percakapan.

Kompetensi Inti yang harus dimiliki oleh peserta didik pada ranah pengetahuan adalah “Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata”. Pengetahuan faktual berisi konvensi (kesepakatan) dari elemen-elemen dasar berupa istilah atau simbol (notasi) dalam rangka memperlancar pembicaraan dalam suatu bidang disiplin ilmu atau mata pelajaran (Anderson, L. & Krathwohl dalam Kemdikbud 2013:42). Pengetahuan faktual meliputi aspek-aspek pengetahuan istilah, pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan sebagainya.

Pengetahuan konseptual memuat ide (gagasan) dalam suatu disiplin ilmu yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan sesuatu objek itu contoh atau bukan contoh, juga mengelompokkan (mengkategorikan) berbagai objek. Pengetahuan konseptual meliputi prinsip (kaidah), hukum, teorema, atau rumus yang saling berkaitan dan terstruktur dengan baik (Anderson, L. & Krathwohl dalam Kemdikbud 2013:43). Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan klasifikasi dan kategori, pengetahuan dasar dan umum, pengetahuan teori, model, dan struktur.

Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana urutan langkah-langkah dalam melakukan sesuatu. Pengetahuan prosedural meliputi pengetahuan dari umum ke khusus dan algoritma, pengetahuan metode dan teknik khusus dan pengetahuan kriteria untuk menentukan penggunaan prosedur yang tepat (Anderson, L. & Krathwohl dalam Kemdikbud 2013:43-44).

Indikator pencapaian kompetensi pengetahuan dijabarkan dari Kompetensi Dasar (KD) yang merupakan jabaran dari Kompetensi Inti (KI) di setiap mata pelajaran. Penyusunan instrumen penilaian ditentukan oleh kata kerja operasional yang ada di dalam KD dan indikator pencapaian kompetensi yang dirumuskan. Teknik penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan dengan tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Tiap-tiap teknik tersebut dilakukan melalui instrumen tertentu yang relevan. Kegiatan penilaian terhadap pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai pemetaan kesulitan belajar peserta didik dan perbaikan proses pembelajaran.

 

  1. PENILAIAN KETERAMPILAN

Berdasarkan Permendikbud nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian, pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio (Sani 2013:205). Meskipun dalam Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 menjelaskan bahwa teknik penilaian keterampilan meliputi praktik, projek, portofolio, produk, dan tertulis, tetapi penjelasan berikut hanya akan mengupas penilaian praktik, portofolio, dan projek. Penjelasan penilaian produk terdapat di dalam langkah kedua projek, sedangkan penilaian tertulis tidak diperlukan penjelasan lebih lanjut karena sudah cukup jelas.

  • Tes unjuk kerja/kinerja/praktik

Tes unjuk kerja/kinerja/praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi. Tes praktik dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktik di laboratorium, praktik salat, praktik olahraga, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamasi, dan sebagainya. Untuk dapat memenuhi kualitas perencanaan dan pelaksanaan tes praktik, berikut ini adalah petunjuk teknis dan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan penilaian melalui tes praktik.

Penilaian praktik/unjuk kerja/kinerja dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini tepat digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi seperti: praktikum di laboratorium, praktik ibadah, praktik olahraga, presentasi, bermain peran, memainkan alat musik, menyanyi, berpidato, dan membaca puisi/deklamasi (Permendikud 2014:17). Instrumen yang dapat digunakan untuk tes praktik adalah daftar cek dan skala penilaian (rating scale).

  • Projek

Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Penilaian projek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian projek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, penyelidikan dan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran dan indikator/topik tertentu secara jelas.

Penilaian projek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode tertentu (Sudaryono 2013:88). Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data (Yamin & Ansari 2008:169). Penilaian bisa digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, dan kemampuan penyelidikan akan materi tertentu.

Projek, atau seringkali disebut pendekatan projek (project approach) adalah investigasi mendalam mengenai suatu topik nyata. Dalam projek, peserta didik mendapat kesempatan mengaplikasikan keterampilannya. Penilaian projek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasi kemampuan menyelidiki, dan kemampuan menginformasikan suatu hal secara jelas (Permendikbud 2014:18). Pelaksanaan projek dapat dianalogikan dengan sebuah cerita, yaitu memiliki awal, pertengahan, dan akhir projek. Karena itu, projek biasanya memiliki tiga fase utama, yaitu:

  • Fase Perencanaan

Dalam fase ini guru menyusun suatu Tugas Projek yang berisi: tema atau topik projek, dan petunjuk tentang apa yang mesti dilakukan oleh peserta didik. Biasanya, sebelumnya hal-hal tersebut di atas didiskusikan dulu oleh guru dengan peserta didik. Merupakan penilaian kepada peserta didik dalam mengontrol proses dan memanfaatkan/menggunakan bahan untuk menghasilkan sesuatu, kerja praktik atau kualitas estetik dari sesuatu yang peserta didik produksi. Contoh: Kerja artistik (menggambar, melukis, kerajinan), makanan, pakaian, produk yang terbuat dari kayu, metal, plastik, keramik. Produk (hasil karya) adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu hasil karya. Penilaian produk dilakukan terhadap persiapan, pelaksanaan/proses pembuatan, dan hasil.

(2).  Penilaian Produk

Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.

Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:

  1. Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
  2. Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
  3. Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. Tiga tahapan yang harus diperhatikan yaitu tahap perencanaan atau perancangan, tahap produksi, dan tahap akhir. Semua harus dilakukan oleh peserta didik meskipun terdiri atas beberapa yang berbeda tetapi semua itu merupakan suatu proses yang padu. Berhubung ketiga tahap itu merupakan proses yang padu, maka guru bisa saja melakukan penilaian tentang kemampuan peserta didik dalam memilih teknik kerja pada tahap produksi dan pada tahap akhir.
  • Penilaian Portofolio

Istilah portofolio pertama kali dipergunakan di kalangan fotografer dan artis, yaitu suatu kegiatan untuk menunjukkan hasil kerja dalam suatu periode tertentu. Kala itu, portofolio berupa koleksi pekerjaan yang dimiliki dan digunakan oleh fotografer untuk menujukkan prospektif pekerjaan kepada pelanggannya (Sani 2014:239). Dalam dunia pendidikan, portofolio dapat digunakan sebagai bukti hasil belajar peserta didik. Portofolio adalah bukti pengalaman yang dihasilkan selama proses pembelajaran.

Portofolio dapat berupa sekumpulan artefak (bukti karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian suatu program. Penggunaan portofolio dalam kegiatan evaluasi sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama dalam pendidikan bahasa. Belakangan ini, dengan adanya orientasi kurikulum yang berbasis kompetensi, penilaian portofolio menjadi teknik penilaian yang direkomendasikan.

Portofolio berasal dari bahasa Inggris portofolio yang artinya dokumen atau surat-surat. Dalam dunia pendidikan, portofolio adalah suatu kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan (Yamin 2007:260). Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya peserta didik secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran (Sudaryono 2013:83). Oleh karena itu, penilaian portofolio berbeda dengan tes konvensional karena penilaian portofolio merupakan penilaian berbasis kompetensi yang menilai peserta didik berdasarkan kinerja dan melibatkan peserta didik dalam proses penilaian.

Penilaian portofolio adalah suatu pendekatan penilaian yang komprehensif karena: (1) dapat mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersama-sama, (2) berorientasi baik pada proses maupun produk belajar, dan (3) dapat memfasilitasi kepentingan dan kemajuan peserta didik secara individual. Dengan demikian, penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan penilaian yang sangat tepat untuk menjawab tantangan dalam penilaian autentik.

Penilaian portofolio menerapkan prinsip penilaian proses dan hasil sekaligus (Widoyoko 2013:124). Penilaian portofolio mengandung tiga elemen pokok yaitu: (1) sampel karya peserta didik, (2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka. Sampel karya peserta didik menunjukkan perkembangan belajarnya dari waktu ke waktu. Sampel tersebut dapat berupa tulisan/karangan, audio atau video, laporan, problem matematika, maupun eksperimen. Isi dari sampel tersebut disusun secara sistematis tergantung pada tujuan pembelajaran, preferensi guru, maupun preferensi peserta didik. Penilaian portofolio menilai proses maupun hasil. Oleh karena itu, proses dan hasil sama pentingnya. Meskipun penilaian ini bersifat berkelanjutan, yang berarti proses mendapatkan porsi penilaian yang besar (bandingkan dengan penilaian konvensional yang hanya menilai hasil belajar) tetapi kualitas hasil sangat penting. Penilaian proses yang dilakukan tersebut sesungguhnya memberi kesempatan peserta didik mencapai produk yang sebaik-baiknya.

Isi folder adalah berbagai produk yang dihasilkan oleh peserta didik, baik yang berupa bahan/draf maupun karya (terbaik), dan disebut entri (entry). Sumber informasi dapat diperoleh dari tes maupun non-tes (dengan tes objektif diupayakan minimal). Bahan non-tes antara lain karya (artefak), rekaman, draf, kinerja, dan lain-lain yang dapat menunjukkan perkembangan peserta didik sebagai pembelajar. Catatan dan bahan evaluasi-diri juga merupakan bagian dalam folder.

Folder portofolio merupakan bahan yang akan diakses oleh guru. Pada umumnya, beberapa hal yang harus ada dalam folder portofolio adalah (1) cover letter, yaitu rangkuman dari apa yang telah dibuat peserta didik sebagai bukti hasil belajarnya, (2) daftar isi portofolio, (3) entri (dengan tanggal pada setiap entri). Entri dibedakan menjadi dua, yaitu entri wajib dan entri pilihan; (4) draf setiap entri (untuk pemantauan proses yang dilalui), dan (5) refleksi dan evaluasi diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian portofolio adalah: (a) Peserta didik merasa memiliki portofolio sendiri; (2) Tentukan bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan; (3) Kumpulkan dan simpan hasil kerja peserta didik dalam 1 map atau folder; (4) Beri tanggal pembuatan; (5) Tentukan kriteria untuk menilai hasil kerja peserta didik; (6) Minta peserta didik untuk menilai hasil kerja mereka secara berkesinambungan; (7) peserta didik yang kurang diberi kesempatan memperbaiki karyanya dengan ditentukan jangka waktunya; (8) Bila perlu jadwalkan dengan orang tua (Permendikbud 2014:21).

16 November 2015 Posted by | Presentasi | | Comments Off on Jenis Penilaian Autentik

Bahan Matrikulasi Bahasa Indonesia Kelas VIII

Bahan Matrikulasi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Untuk SMP Kelas VIII yang Belum melaksanakan Kurikulum 2013  

 

 

Materi Kompetensi Dasar Keterangan
Teks Hasil Observasi 3. Memahami, membedakan, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi teks hasil observasi baik melalui lisan maupun tulisan.

4. Menangkap makna, menyusun, menelaah dan merevisi, serta meringkas teks hasil observasi yang disusun sesuai dengan karakteristik, struktur, dan kaidah teks secara lisan maupun tulisan.

Teknik penyajian: Tugas mandiri atau terbimbing
Teks Tanggapan Deskriptif 3. Memahami, membedakan, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi teks tanggapan deskriptif baik melalui lisan maupun tulisan.

4. Menangkap makna, menyusun, menelaah dan merevisi, serta meringkas teks tanggapan deskriptif yang disusun sesuai dengan karakteristik, struktur, dan kaidah teks secara lisan maupun tulisan.

Teknik penyajian: Tugas mandiri atau terbimbing
Teks Eksposisi 3. Memahami, membedakan, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi teks eksposisi baik melalui lisan maupun tulisan.

4. Menangkap makna, menyusun, menelaah dan merevisi, serta meringkas teks eksposisi yang disusun sesuai dengan karakteristik, struktur, dan kaidah teks secara lisan maupun tulisan.

Teknik penyajian: Tugas mandiri atau terbimbing
Teks Eksplanasi 3. Memahami, membedakan, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi teks eksplanasi baik melalui lisan maupun tulisan.

4. Menangkap makna, menyusun, menelaah dan merevisi, serta meringkas teks eksplanasi yang disusun sesuai dengan karakteristik, struktur, dan kaidah teks secara lisan maupun tulisan.

Teknik penyajian: Tugas mandiri atau terbimbing
Teks Cerita Pendek 3. Memahami, membedakan, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi teks cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan.

4. Menangkap makna, menyusun, menelaah dan merevisi, serta meringkas teks cerita pendek yang disusun sesuai dengan karakteristik, struktur, dan kaidah teks secara lisan maupun tulisan.

Teknik penyajian: Tugas mandiri atau terbimbing

 

 

25 Juni 2014 Posted by | Presentasi | | Comments Off on Bahan Matrikulasi Bahasa Indonesia Kelas VIII

Pola Pikir Perumusan Kurikulum 2013

Penyempurnaan Pola Pikir Perumusan Kurikulum 

No KBK 2004 KTSP 2006 Kurikulum 2013
1 Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar Isi Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan
2 Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan Mata Pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran) yang dirinci menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran
3 Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan,
4 Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai
5 Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas)

23 Juni 2014 Posted by | Presentasi | | Comments Off on Pola Pikir Perumusan Kurikulum 2013

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya