Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Jiwa Korsa

Staplekamps Jr. Le Luit der Aat dalam tulisannya yang berjudul Corps Geest (De Militaire Spectator; 1952) mengemukakan bahwa pengertian jiwa korsa terdiri dari faktor-faktor:

(1) Rasa hormat,

(2) Kesetiaan,

(3) Kesadaran,

(4) Tidak mementingkan diri sendiri.
Mungkin jiwa korsa ini seperti konsep ASHABIYAH-nya Ibnu Khaldun (1332-1406) di dalam bukunya yang terkenal MUQADIMAH. Di mana beliau mengartikan sebagai rasa senasib sepenanggungan, perasaan solidaritas, semangat kesatuan (corps), kesadaran kolektif dsb. Jiwa korsa yang kuat tidak mudah padam selama di dalam korps. Di dalam jiwa korsa terkandung loyalitas, inisiatif, tanggung jawab, terbuka, memiliki dedikasi dll. dan tentang loyalitas perlu kiranya diartikan lebih luas. Di samping kepada korps, loyalitas mengandung pengertian pula, bahwa apa yang diperbuat harus memberikan manfaat atau kebaikan di manapun dia berada.

 

 

 

Sumber : http://www.facebook.com/topic.php?uid=80007124004&topic=9065

Iklan

18 Maret 2011 Posted by | Bahasa | | 1 Komentar

Dilema Nada

cahyamu lunglai terjebak mendung
berlilit derai sepanjang kampung
kutunggu kapan lepas dirundung
luka hatimu bersih mengapung

harmoni nada sumbang menjalar
mengakar hukum rimba tersamar

………………………

14 Maret 2011 Posted by | Puisi | | 1 Komentar

Biarkan Sungai itu Mengalir

Biarkan Sungai itu Mengalir

Meski kini kuseberangi dengan ringkik kuda besi, anganku terasa mengalir di atas sungai deru. Dan jembatan waktu itu menjadi sebuah ingatan yang tak mudah berlalu. Begitulah saat-saat banjir masa lalu, dirimu senantiasa hadir menemaniku.

Wahai kawan, masih ingatkah sungai romantis yang pernah kita seberangi. Dan demi rindu maka kautuliskan dalam buku harianmu kemudian kaukirim padaku begini. “Kali Progo 2 April 1983, hujan mempercepat kelam”. Setelah sholat zuhur jam menunjukkan pukul 2, Riyadi temanku datang ke kostku di Sapen Tegal III/88A mengajakku jalan-jalan ‘ngepit’ keliling Yogyakarta belahan barat. Kamipun berangkat. Di Jln. Solo seorang cewek bersepeda, berbaju putih anrok biru, kami berduapun berusaha mengejarnya. Tunggu episode berikutnya … “.

Ahai,  aku sudah lama menunggu kawan.  Mana kelanjutan episode itu.  Seperti sungai waktu yang terus mengalir rindu, dan muaramu kini di pantai pasir tentu.  Ah, Pesisir utara atau selatan belahan barat atau timur semuanya persada indah dinanti.

Krui, 30 tahun yang lalu. Di situlah tanah lahirmu. Yang pernah kauceritakan padaku. Yang kini tetap kurindu. Sejak kita dipisahkan oleh gelora zaman dan sulitnya menggapai sebuah dataran. Kekeringan betapa sulit mengalirkan sebuah perbedaan.

Meski hanya dalam angan, tiadalah pernah kita pungkiri seonggok petualang. Begitupun ketika gerimis teramat santer mengetuk-ketuk pintu malam maka bulan beralih dari persembunyian.  Di antara ladang dan persawahan kulihat dirimu cuma menangisi sebuah puisi yang hilang.

Aku ingin diam, tetapi rasa ini sungguh tak terdiamkan.  Waktu pun terus berjalan.  Detik demi detik menyentak pikiran. Geloranya begitu mengantarkan. Pada hitungan untuk memulai.  Pada bilangan yang kadang menentukan.  Ke kanan atau ke kiri arah pijakan. Hidup sungguh berlomba dengan harapan. Begitulah aku setia menantikan.

Sepanjang air masih lestari hadir. Persahabatan ini belum berakhir.  Kita tetap sebangsa dan setanah air. Biarkan sungai itu mengalir.

8 Maret 2011 Posted by | Cerpen | | Komentar Dinonaktifkan pada Biarkan Sungai itu Mengalir