Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Kegagalan Kurikulum Bahasa Indonesia

Kegagalan Kurikulum Bahasa Indonesia

(sekedar catatan pribadi)

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah baik tingkat pendidikan dasar maupun pendidikan menengah senantiasa mengacu kepada kurikulum yang berlaku sebagaimana mata pelajaran yang lain di sekolah. Pemberlakuan kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia pun telah senantiasa disertai rambu-rambu pengembangan yang harus dilakukan oleh guru.

Seiring dengan lajunya kemajuan IPTEK takpelak lagi pembelajaran Bahasa Indonesia juga tertuntut untuk mengikuti perkembangan tersebut. Dalam setiap pergantian kurikulum yang berlaku, maka kurikulum yang lama lazim disebut sebagai kurikulum tradisional dan “dianggap” gagal.
Beberapa catatan tentang “pengejaran” perkembangan pembelajaran khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP, dan SLTA terdaftar sebagai “kegagalan” kurikulum pembelajaran bahasa.
Beberapa catatan tersebut antara lain :

1. Kurikulum 1975
Pada Kurikulum 1975 pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan struktural (formalis); pembelajaran bahasa dimulai dari konsep-konsep. Salah satu bentuk khas dalam Kurikulum 1975 yang berlaku untuk semua bidang studi adalah PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)

2. Kurikulum 1984

Pada Kurikulum 1984 pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan fungsional. Pembelajaran Bahasa Indonesia ditekankan kepada aspek fungsi bahasa : menyimak, berbicara, membaca, menulis/mengarang. Pembelajaran menekankan pada pemerolehan bahasa. Salah satu bentuk khas dalam Kurikulum 1984 adalah adanya CBSA (cara belajar siswa aktif) dan penggunaan pendekatan keterampilan proses. Dalam Kurikulum 1984 inilah dimunculkan pembelajaran ‘Pragmatik’. Kontruksi materi pelajaran selalu dimulai dengan membaca, kosakata, struktur, menulis, pragmatik, dan diakhiri dengan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.

3. Kurikulum 1994

Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 1994 masih menggunakan pendekatan fungsional. Penekanannya pada aspek kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Dalam kurikulum 1994 ini tidak ada pembelajaran sastra. Materi sastra dimasukkan ke dalam aspek pemahaman yang sangat minim (hanya ada satu pokok bahasan tentang sastra.)

4.  Kurikulum 2004

Kurikulum 2004 adalah awal diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini sangat ideal. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia juga sangat ideal dalam segala aspek kebahasaan maupun aspek kesastraan.  Namun pelaksanaannya sangat “melelahkan” guru. Ada banyak guru yang belum memahami dan belum mampu melaksanakan KBK ini secara ideal, sehingga oleh TIM 9 Depdiknas dibonsai menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

5. Kurikulum 2006

Kurikulum 2006 atau lebih populer dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih fleksibel untuk dilaksanakan. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak lagi harus dirinci dengan indikator-indikator yang “ruwet”. Bahkan pembelajaran Kebahasaan dan Kesastraan diharapkan seimbang dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Kegagalan Kurikulum Bahasa Indonesia :

Iklan

6 Oktober 2010 - Posted by | Artikel |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: