Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

BARA LUKA

BARA LUKA

 

kabut mitra sejarah

meminang pagi terasa gundah

hidup kadang terjarah

tetaplah semangat dan jangan menyerah

laut meremas karang

bersulang ombak pembatas pandang

nyali hanya terkadang

lebihnya hati terampas gamang

dendang lagu baru

biarkan langit tetap membiru

hidup kadang merindu

serpihan waktu cuma menunggu

Iklan

11 Oktober 2010 Posted by | Puisi | | 1 Komentar

Pagiku Ditelan Hujan

PAGIKU DITELAN HUJAN
rindu memberat menyengat pikiran
kabut menebal gelora impian
akankah dzikirmu berulang pergi

JIWAKU HUJAN RINDU MENANTI
sekerat jalan
riuh mendaki menjarah pagi
sampai padamukah gigilan ini

HUJANKU TAKHENTI MERAJAM JALANAN
jejak menggenang rimbun mencekam
wahai sungai muara hati
akankah kaupinang rinduku ini

7 Oktober 2010 Posted by | Puisi | | Komentar Dinonaktifkan pada Pagiku Ditelan Hujan

Puisi Chairil Anwar

Menikmati Sepasang Puisi Chairil Anwar

Menikmati Sepasang Puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku” dan “Penerimaan” laiknya menikmati pertunjukan berbalas pantun. Konsep dasar ‘tone’ yang melankolis ini memang terasa indah apalagi didukung diksi yang padat dan berisi.  Mari kita baca saja dulu kedua puisi berikut :

………………………………..

AKU

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

………………………………..

6 Oktober 2010 Posted by | Puisi | | 1 Komentar