Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

di “Ruang Jingga”

Di Ruang Jingga Aku Bermimpi

Sejak terbitnya antologi puisi ‘Ruang Jingga’ banyak pelajaran yang saya petik dari manfaat penerbitan itu sendiri. Ada pelajaran yang berdsifat kritik membangun termasuk unsusr unsur yang membangun sebuah puisi, ada pula pelajaran tentang dunia IPTEK yang mata saya masih terasa Gaptek.  Betapa pun kritik dan pernik-pernik ulasan itu  banyak yang nyata, namun saya merasa masih bermimpi di “Ruang Jingga” yang artinya sayup-sayup diri saya seolah takpercaya berada di antara rekan-rekan penyair dan kritikus sastra yang cukup punya nama di tataran sastra modern kita.  Semula saya mengirimkan 10 puisi ke redaksi Ruang Jingga. Setelah melalui tahap kurator dan seleksi ada delapan puisi saya yang ikut terbit di dalam “Ruang Jingga”, yaitu :  “Senandung Risau”, “Pohon Imaji”, “Jeruji Kematian”, “Serambi Senja”, “Kidung Minggu Pagi”, “Ketika Diri Tak Mampu Memilih”, “Desak Sunyi”, dan “Siksa Alami”.

Ada banyak kritikus yang mengulas dan mengapresiasi puisi-puisi saya tersebut, dan dalam tulisan ini saya coba tampilkan dua tokoh terlebih dahulu, yaitu  1. Dimas Arika Mihardja yang memilih puisi berjudul “Ketika Diri Tak Mampu Memilih” untuk diulas dan dikritisi, dan 2. Sawali Tuhusetya yang memilih puisi berjudul “Serambi Senja” untuk diapresiasi.

Selengkapnya kritik dan apresiasi atas puisi saya di antologi puisi Ruang jingga sebagai berikut :

RIYADI: “KETIKA DIRI TAK MAMPU MEMILIH”
(Oleh : Dimas Arika Mihardja)

Dalam buku Ruang Jingga (Q Publisher, 2010, hal. 23) Riyadi (Purworejo, 9 Maret 1962) menulis puisi bertajuk “Ketika Diri Tak mampu Memilih”. Puisi ini saya pilih untuk diapresiasi secara sederhana alih-alih untuk memahami dan memaknai bagaimana seorang Riyadi dalam berpuisi. Di dalam buku ini Riyadi menyumbangkan 8 (delapan) puisi, masing-masing berjudul “Senandung Risau”, “Pohon Imaji”, “Janji Kematian”, “Serambi Senja”, “Kidung Minggu Pagi”, “Ketika Diri Tak Mampu Memilih”, “Desak Sunyi”, dan “Siksa Alami”. Judul-judul puisi karya Riyadi seperti sebuah jendela yang melalui jendela ini kita bisa melongok apa yang ada di dalamnya.

Secara sederhana, Riyadi mendedahkan persoalan renungan tentang berbagai aspek realitas kehidupan seperti tampak pada judul-judul puisinya seperti: senandung risau, pohon imaji, jeruji kematian, ruang jingga saat senja, kidung doa puja-puji, dilema yang menyediakan ruang pilihan, desakan sunyi, dan saksi alami. Judul-judul seperti itu merujuk pada pembicaraan tentang diri, semesta,dan Sang Maha Pencipta. Realitasnya, setiap manusia penyair selalu digelisahkan oleh persoalan diri, pandangan dunianya (semesta), dan memuja Sang maha Pencipta dengan aneka kidung doa dan pujian. Dalam konteks ini lalu di dalam diri manusia penyair terkadang (bahkan sering) diperhadapkan oleh berbagai pilihan. Saat dihadapkan oleh berbagai pilihan, manusia penyair terkadang dirinya tak mampu memilih. Kita kutipkan bait 1 yang mengawali puisi “Ketika Diri Tak Mampu Memilih (hal. 23) berikut:

ketika diri takmampu memilih
bahkan berbuat
melayanglah pandang pada gunung-gunung masa lalu
sayup-sayup rindu …
pada ilmu
ibadah
juga mencari nafkah

Bait pertama ini secara gamblang danterang benderang Riyadi memaparkan persoalan pada saat tak bisa menentukan pilihan antara ilmu, ibadah, dan mencari nafkah. Ketiga hal ini mestinya tidaklah perlu dipilah dan dipilih, sebab ketiga hal ini (ilmu,ibadah,dan mencari nafkah) merupakan aspek yang berkjalin-berkelindan, saling isi, dan tak perlu dipilih. Saat mencari nafkah, misalnya, peran ilmu dan ibadah haruslah dijadikan sandaran dalam berbuat dan berperilaku. Dengan ilmu kita bisa beramamal, dengan ibadah kita dapat mengendalikan arah dalam mencari nafkah yang halal. Riyadi tampaknya memiliki kerinduan terhadap tiga hal ini. Kerinduan itu terefleksi pada bayang masa lalu yang sayup-sayup kembali menghampiri pikirannya.

Kita selanjutnya bisa menyimak betapa Riyadi melukiskan betapa belitan problema hidup dan kehidupan (terkait dengan ilmu,ibadah, dan mencari nafkah) melalui ironi seperti bait kedua ini:

desak-desak pintu
menahan laju
wahai burung malam …
kemana tuju bayangmu tak tentu
apakah kau punya nama
bahkan jabatan
mengepakkan sayap sayap keserarahi
di belantara sunyi dirimu taklagi peduli
memangsa pagi
hingga ke akar yang paling sepi

Membaca bait kedua ini, pembaca kritis lantas terpikir sebuah hipogram bait ini dengan bait-bait puisi Raja Penyair Pujangga Baru (Amir Hamzah) yang pernah menulis masalah seperti diungkap pada bait kedua ini dengan ungkapan seperti ini: kasihmu sunyi/ menunggu seorang diri/ di mana Engkau rupa tiada/suara sayup/ hanya kata merangkai hati/ Engkau cemburu/ engkau ganas/ mangsa aku dalam cakarmu/Bertukar tangkap dengan Lepas/….lalu waktu bukan giliranku/ Mati hari bukan kawanku”. Dalam hal cipta mencipta puisi, hipogram (penulisan puisi yang memiliki kesamaan dengan puisi karya penyair lain dalam tata bentuk dan makna) teramat dimungkinkan. Mungkin saja Riyadi belum pernah membaca puisi karya Amir Hamzah “PadaMu Jua”, namun dalam halpenciptaan kreativitas halitu dimungkinkan.

Lantaran diperhadapkan oleh banyaknya pilihan yang membingungkan, muncullah sebuah sergapan kegelapan. Kegelapan yang menyergap penyair ini tertuang pada bait ketiga seperti ini:

dirimbun terbit gelombang matahari masih menunggu
membaca abjadmu terpana gelora matahati
mengejar jejakmu terbelit duri semata sufi

Menurut pembacaan saya, hakikat kesufian belum terwakilkan oleh pernyataan-pernyataan sufi. Seperti saat remaja jatuh cinta, pernyataan “aku cinta padamu dik” belum mampu menggambarkan rasa cinta yang menumbuhkan keharuan. Berbeda jika rasa cinta itu diungkapkan dengan cara seperti ini: “Ini setangkai mawar merekah, kupetik di puncak bukit hingga duri-durinya berdarah di ujung jemari”. Ungkapan bait ketiga yang (maaf) maunya memasuki wilayah kesufian menjadi “mentah” lantaran digunakannya kata “sufi” di dalam ungkapannnya. Andai Riyadi mampu melukiskan hakikat “sufi” dengan kata dan simbolisasi,maka puisinya akan lebih berkilau.

Pada akhir puisinya, situasi problematis dan keraguan memang dapat dirasakan melalui bait seperti ini:

angin …
kaukah itu
yang mampu menenggak sepi
menyeret pandang ke jendelajendela abadi
meski tetap sunyi ….

Puisi yang bertitimangsa penulisan 15 Maret 2010 ini secara keseluruhan memaang mewartakan kesulitan Riyadi menetapkan pilihan. Keraguan yang kita baca pada bait terakhir yang dikutipkan itu menjadi hukti keraguan atau kegamangan penyairnya, yakni dengan pertanyaan romantik: “angin …/kaukah itu/ mampu menenggak sepi/menyeret pandang ke jendelajendela abadi/meski tetap sunyi…. Pembaca bertanya, kenapa simbol yang digunakan “angin”? Kenapa bukan “nafas”? Lalu apakah ada makna penggunaan titik-titik (…) pada bait sajak ini? Ini menunjukkan bahwa Riyadi masih harus menetapkan pilihan yang paling memungkinkan dalam mengeksplorasi puisinya.

Demikian.Salam kreatif.

Dimas Arika Mihardja
Bengkel Puisi Swadaya Mandiri
Jambi 5 Agustus 2010

Ruang Jingga : Memadukan Kreativitas melalui Jejaring Sosial

(Oleh : Sawali Tuhusetya)

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah antologi puisi “Ruang Jingga” dari Pak Riyadi, seorang sahabat dan rekan sejawat dari Purworejo, yang piawai merawi kata-kata seperti menjadi “mantra” yang mampu “menghipnotis” dan mengharu-biru kepekaan nurani. Namun, baru kali ini saya sempat menikmati beberapa puisi yang merupakan “bunga rampai” dari sejumlah penyair yang tergabung dalam sebuah group jejaring sosial Facebook bertajuk “Pencinta Puisi” yang dibidani kelahirannya oleh Rini Intama ini.

Ada 12 penyair yang karya-karyanya terkumpul dalam antologi ini, di antaranya Rini Intama (Jakarta), Ki Gambuh R. Basedo (Rembang), Riyadi (Purworejo), Lendy Soekarno (Blitar), Restu Hariyanto (Medan), Nanang Rusmana (Kuningan), Iin Syah (Padang), Bening Hati (Riau), Anna Althafunnisa (Singapura), Hozaini Geresis (Malang), Afrizal (Mojokerto), dan Banyu Segara Pantura (Cirebon). Dari 12 penyair tersebut, yang kebetulan saya kenal dekat hanya Pak Riyadi, hehe …. yang juga salah seorang pengurus “teras” Agupena Cabang Purworejo. Ada 8 puisi karyanya yang dimuat dalam antologi yang diterbitkan oleh Q Publisher ini, yakni “Senandung Risau” (hal. 18), “Pohon Imaji” (hal. 19), “Jeruji Kematian” (hal. 20), “Serambi Senja” (hal. 21), “Kidung Minggu Pagi” (hal. 22), “Ketika Diri Tak Mampu Memilih” (hal. 23), “Desak Sunyi” (hal. 24), dan “Saksi Alami” (hal. 25).

Agar Sampeyan tak penasaran, silakan nikmati salah satu karya Pak Riyadi berikut ini!

Serambi Senja

serukan beban ke bumi tanam
membujuk mawar malu terkapar
bukan sesat jalan pikiran
semata rindu hati berdebar

betapa sayup-sayup cahaya siang berbondong
pada guratmu cakrawala memudar
tanya mengapa sebagian darimu omong kosong
hanya untuk menyesatkan diri kian lapar terkapar

senja merah bertabur amarah
kelam membumi menebing sunyi
birahi sukma melautkan sajadah

ranting pemanjat tak bergeming
lembut udara mengintai masa
soneta rasa menahan lengking
***

Lirik yang indah, bukan? Terbitnya “Ruang Jingga” makin membuktikan bahwa jejaring sosial semacam Facebook bisa dijadikan sebagai media untuk memadukan kreativitas banyak orang dari berbagai latar belakang. Sungguh, sebuah upaya kreatif yang layak diapresiasi. Selamat buat Pak Riyadi, dkk., semoga derajat kepenyairannya makin eksis dan terus terpacu untuk melahirkan karya-karya puisi kreatif yang indah dan eksotis.

Yang tidak kalah penting, semoga terbitnya “Ruang Jingga” makin inspiratif dan terus mengilhami para penyair muda yang kini mulai eksis menemukan jati diri kepenyairan lewat blog atau facebook untuk menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku. Ayo, siapa menyusul? ***

Kendal, 16 Agustus 2010


Iklan

16 Agustus 2010 - Posted by | Artikel |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: