Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

bara hujan

senja berburu bara hujan
kupu kupu kian tuna persembunyian
kemana terbangmu kan kutemukan
meski setiamu tinggal gelayut penantian

beranda zaman taklagi bersapa pada hujan
kini tinggal gerimis yang mengetuk pintu malam
bahkan semburat ratapan telah merenggut gelora kerinduan
berangkatlah kawan meski berbekal cahaya muram

kutumpahkan rinduku di antara gelora hujan
kulautkan sajadahku di muara ujung penantian
kulangitkan baramu demi teriak petir penghabisan
laut langit putih adakah masih kausimpan jejak kesabaran

24 Agustus 2010 Posted by | Puisi | | Komentar Dinonaktifkan pada bara hujan

Ilusi Pagi

BETAPA PAGIMU DINGIN MENANTANG

angin terperosok menebing curam
kecipak air berdebar menanti bulir
jabat erat musim terapung muram
betapa nafasmu sunyi mengalir

lengang berebut celah ratapan
marak merindu terkoyak harapan
semata bunga asa bermekaran
geliat sunyi lestari bertaburan

janji hampir semata transaksi
ilusi pagi cuma belaian mimpi
embun penghabisan lenyap ditelan sepi

jarak kian menggenang di jagat panjang
perjalanan akankah terentang ulang
betapa pagimu dingin menantang

20 Agustus 2010 Posted by | Puisi | | 2 Komentar

Citra Guru

Citra Guru dalam Novel Karya Pramoedya Ananta Toer “Bukan Pasar Malam”

Sebuah analisis sosiologis sastra yang pernah saya lakukan dalam penelitian untuk mendeskripsikan unsur tokoh dan penokohan dalam novel “Bukan Pasar Malam” karya Pramoedya Ananta Toer ini menarik karena melalui karya sastra kita dapat mengetahui citra guru pada masa penjajahan Belanda.

Konsep tentang citra guru dan aspek-aspek sosiologis yang mempengaruhi kehidupan seorang guru sesuai dengan zamannya sungguh asyik dibahas, meskipun sebatas dalam cerita novel.

Bagaimanakah kehidupan seorang guru pada masa penjajahan Belanda? Melalui analisis sosiologis novel tersebut dapat saya simpulkan bahwa seorang guru pada zaman penjajahan Belanda adalah seorang nasionalis dan pemimpin gerilya. Sosok guru (disimbolkan dalam tokoh ayah) merupakan sosok citra guru yang tidak bersedia memungkiri panggilannya sebagai guru serta kesetiaannya kepada revolusi. Terjadilah konflik status dan peranan dalam sosok guru, yaitu dalam rangka kepentingan pemerintah pendudukan Belanda dan sesama kaum pergerakan. Konflik tersebut menjadikan sosok guru (tokoh ayah) sakit dan meninggal dunia.

Citra guru dalam novel “Bukan Pasar Malam” secara tidak langsung menumbuhkan semangat patriotisme dan cinta tanah air.

Bagaimana citra guru pada masa sekarang setelah 65 tahun Indonesia merdeka? Ah, masih susah mencari novel terbitan baru yang mengisahkan kehidupan seorang guru.

17 Agustus 2010 Posted by | Artikel | | 2 Komentar