Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Cahaya Rindu

aku terbakar bara merdu serpihan rindu
dalam laju bukit bukit turut membiru
tiap marka jalanan menimang jejak deru
adalah rona wajah lelah dan resah penantianmu

pada rimbun ketapang jendela wajahmu lekat semata
cahaya rindu menghiasi sorot beningmu tak berdaki
gerimis air mata terlempar jauh ke cakrawala
tatapanmu tetap merayuku tanpa batas puji

kerdip cahaya bertubi tubi menyeret wajahmu ke ranting sunyi

Iklan

10 Juni 2010 Posted by | Puisi | | 3 Komentar

bibirmu bukan hatimu

bibirmu bukan hatimu
kemarin merah sekarang biru
datang melukis amarah
pulang tinggalkan kanvas kuyu

apakah kau cuma rindu

bibir kumal
menyumbat otak senior-senior bebal
hati kesal
berdesak-desak gelora binal

bibirmu sungguh tradisional

bibir tanpa tulang
tangan panjang mata-mata jalang
kadang liar memaki sembarang
kadang berang tumpahkan gairah perang

bibirmu sungguh terlarang

bibir malam sembunyilah dalam kelam
bibir pagi bersabarlah menunggu hati

suatu hari diriku tetap butuh risalah bibirmu.

10 Juni 2010 Posted by | Puisi | | 1 Komentar

Kabut Pagi

awalnya cahaya kelam sunyi
bertahan dalam renjana
tanpa mengabaikan setia hati
begitulah cinta mencabik cabik rona dada

jari-jari lentik menyapa perdu-perdu
lembutnya menghadirkan nuansa pikiran
meski dalam deru diriku kadang masih rindu
kaulah kawan kembara berselempang kejujuran

keruh riuh cahayamu adalah sorak masa lalu
aku renggut beserta puing-puing jejak yang retak
bertahan dalam setia tatapan pilu
selimut jalanan semata kawan menatap koyak-moyak

jari jari gundah dalam gelayut tajuk harapan
terasa liuk kelingking di atas ranting berduri
mata matahati berkalang rimbun pikiran
kemana terbangmu hari-hari menampar sunyi

kabut malu-malu melipat langit
pelangi terkapar di alam entah
jangan terbakar dirimu di lahan jerit
gundah dan resah biarlah menjadi senyum sejarah

selamat pagi kabut, aku menunggu retakmu rebah berlalu.

9 Juni 2010 Posted by | Puisi | | 1 Komentar