Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Kabut Pagi

awalnya cahaya kelam sunyi
bertahan dalam renjana
tanpa mengabaikan setia hati
begitulah cinta mencabik cabik rona dada

jari-jari lentik menyapa perdu-perdu
lembutnya menghadirkan nuansa pikiran
meski dalam deru diriku kadang masih rindu
kaulah kawan kembara berselempang kejujuran

keruh riuh cahayamu adalah sorak masa lalu
aku renggut beserta puing-puing jejak yang retak
bertahan dalam setia tatapan pilu
selimut jalanan semata kawan menatap koyak-moyak

jari jari gundah dalam gelayut tajuk harapan
terasa liuk kelingking di atas ranting berduri
mata matahati berkalang rimbun pikiran
kemana terbangmu hari-hari menampar sunyi

kabut malu-malu melipat langit
pelangi terkapar di alam entah
jangan terbakar dirimu di lahan jerit
gundah dan resah biarlah menjadi senyum sejarah

selamat pagi kabut, aku menunggu retakmu rebah berlalu.

Iklan

9 Juni 2010 - Posted by | Puisi |

1 Komentar

  1. salut.. deh sama pak Ri… yang sll aktif nulis. ajari dong pak untuk bisa nulis. Mungkin dg nulis-nulis komentar seperti ini bisa melatih diri untuk bisa mengembangkan kalimat? salam kenal pak.. dari saya

    Komentar oleh poniyem | 10 Juni 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: