Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Tribun1

TRIBUN PERADABAN
ruas – ruas cahaya menampar beringas
memeras deras keringat jalanan di ketiak kota
nafas – nafas sesak sendat meranggas
menyeret jarak tempuh kian terbata – bata

“akulah tribun … “
dengan mata nanar dan luka memar berlabuh di tiap sudut kening
siapa punya peduli pada bayang-bayang sepanjang badan
kadang menghilang bahkan kering tak bergeming

hanya dengan alasan ilusi
hanya dengan alasan gengsi
perintahmu nyata menyesatkan hati
membakar semangat berjudi di tiap ibukota sepi

“ini anggaran tak bertuan …”
dengan lidah cemar mengulum misi
meminang pengantin generasi bertubi-tubi
dalam estafet tunas korupsi.

rumput dan perdu-perdu ikut tersipu malu
dikenai pasal-pasal beringas cahaya
depan tribun peradabanmu.

Iklan

30 Mei 2010 - Posted by | Puisi |

2 Komentar

  1. Tribun
    aku melihat cahaya yang menyelinap disela perdu
    aku tersipu …

    * Mas bagus banget puisimu… wah wah aku kelimpungan

    Komentar oleh rini Intama | 31 Mei 2010

  2. lagu lama anak bangsa hingga bangun tribun ini?

    Komentar oleh anna | 1 Juni 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: