Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

anggrek ungu

awalnya mega-mega biru.

rebah cahaya ke ruang jingga.

anggrek ungu cuma satu kata yang membisu.

masih terseduh di cakrawala.

malam dirajam gerimis muram.

bintang berebut sunyi ke bait rindu.

tetes tetes hujan laiknya virus jalanan.

menyeret tiap jendela sepi ke dalam deru.

satu dua jalur mengubur kelam. semburat cahaya timur jingga meraya. memulai hitungan jarak meluncur pelan. jangan biarkan subuhmu mesra kehilangan selera.

bukan kegelapan yang nyelinap ke dalam
subuhmu. tetapi abjad dunia yang pernah terucap di sebuah pagi. bukan kepergian menyesali dirimu. tetapi bayangan wajahmu yang terus melekat di hati.

kabut lengang berbisik mengalam pikiran. merayap kelu ayat ayat bisu di relung hati. kulihat dirimu di antara bayang-bayang kekerdilan. hingga setitik cahaya mulai tercemar dalam peradaban maknawi.

beberapa menit kemudian rembulan menimang rindu. menitipkan asa dan frasa malam kepada cemara yang bisu. semakin jauh kautinggalkan, semakin berat kerinduan yang membebani pikiran.

wahai angin yang setia bersalam. bukakan aku sebuah pintu. agar dapat kutulis sebuah kalam. hingga mimpi bertaut merenggut rindu
Iklan

22 Mei 2010 - Posted by | Puisi |

6 Komentar

  1. hilang kata kalo mau komen sajaknya mas riyadi….ahhh…terbuai….

    Komentar oleh Anna | 23 Mei 2010

    • Mbak Anna…. bikin deg degan ajah … mang napa sih pakai sembunyi kata, eh kata sembunyi

      Komentar oleh Riyadi | 24 Mei 2010

  2. malam dirajam gerimis muram.

    kejadian senin malam……..mas riyadi, koq bisa pas ya…kalimatnya; malam dirajam gerimis muram, tadi malam kejadiannya mas.

    Komentar oleh nanangrusmana | 25 Mei 2010

  3. Susah juga mau ngomentari tulisan sebagus ini. Te o pe be ge te, deh, Pak.

    Komentar oleh Dzakiron | 26 Mei 2010

  4. suka az..kreatif..mnta ajari..bs?

    Komentar oleh nurul aini | 22 Agustus 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: