Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Ballada bulan betina

Ballada Bulan Betina

Puisi : Riyadi

dingin liar menembus bara hujan

petir menampar jeda-jeda kerinduan

sesak malam penuh gelayut penantian

ribuan tangis menjalar di pipi sepi jalanan

“koran … koran …” kata bocah penjaja

sinar matanya menggambar harapan

atas dermaan receh yang berpura tak minta kembalian

listrik madam!

penjaja alun-alun kota terdiam

begitu pun penjaja koran malam

sepotong harapannya terhempas dihardik kegelapan

bawah tiang listrik gerimis masih merintik

hatinya kecut diliputi ketakutan

“Mana kelakuanmu …”

telinga nalurinya mendengar bahasa yang susah dimengerti

selain kemarahan yang memuncak di alam mimpi

“Dasar anak jalanan”

meringkuk semakin rapat ia tutup telinga kiri kanan

karna tak ingin ia dengar laknat berikutnya

“mana uang hasil penjualan koran… ”

listrik mungkin menyalak, tetapi jerit terlanjur beku

penjaja koran malam lelap ditelan frasa rembulan

dahaga dan laparnya mengemis cahaya kerinduan

sepanjang kerdip pecundang

bulan di ujung jalan termangu mengendapkan lelah angin.

sejuk malu-malu menatap gerimis,

hingga pagi buta mimpimu telak menghujam.

meratapi kekerdilan zaman.

Purworejo, 16 Mei 2010


Iklan

16 Mei 2010 - Posted by | Puisi |

3 Komentar

  1. Miris menyerupai tragis gambaran dalam puisi ini, tapi demikianlah kehidupan besar dan kasar yang harus dihadapi mereka…..Puisi yang membuat kita merenung dalam setiap mendung negeri ini

    Komentar oleh shinta miranda | 16 Mei 2010

    • Terima kasih kepada Mbak Shinta Miranda yang telah berkenan atensi ke dalam jiwa puisi ini. Salam…

      Komentar oleh Riyadi | 21 Mei 2010

  2. meratapi kekerdilan zaman.
    luarbiasa kang puisinya.

    hormatku selalu dalam kerinduan.

    salam hujan

    Komentar oleh Arif Agus Bege'h | 17 Mei 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: