Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Dinding Waktu

Dinding Waktu

bergulir rasa detak
mendinding ditelan waktu
detik ini
sepi membatu
hutan kelam
menutup jendela rindu
nyanyian masa lalu

(kulihat tebingmu masih sebuah sunyi yang curam)

Tebing Waktu

ke mana pagimu tercemar ilusi ini
rimbun dendam tiba tiba menjarah belukar hati
sungai rindu mengalir derai transisi
tercampak di danau para pemimpi

pengantin rimba terinjak desak
bau amis kaos kaki pecundang
menyusup ke kamar bedah
menyembelih cahaya generasi generasi

langit mendung menuding sunyi
merotan jiwa jiwa yang terjepit
terkapar
di antara nganga luka

di antara duri duri
hutan ini
tetap sebuah korupsi sepi

Iklan

4 Mei 2010 - Posted by | Puisi |

2 Komentar

  1. Dinding waktu,
    menyeru masa
    kesempatan untuk melewatinya…

    salam…

    Komentar oleh iin syah | 9 Mei 2010

  2. Membaca “Dinding Waktu” membaca kesunyian yang demikian jauh, tak terukur. Salam kekerabatan.

    Komentar oleh Sungkowoastro | 15 Mei 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: