Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Tribun1

TRIBUN PERADABAN
ruas – ruas cahaya menampar beringas
memeras deras keringat jalanan di ketiak kota
nafas – nafas sesak sendat meranggas
menyeret jarak tempuh kian terbata – bata

“akulah tribun … “
dengan mata nanar dan luka memar berlabuh di tiap sudut kening
siapa punya peduli pada bayang-bayang sepanjang badan
kadang menghilang bahkan kering tak bergeming

hanya dengan alasan ilusi
hanya dengan alasan gengsi
perintahmu nyata menyesatkan hati
membakar semangat berjudi di tiap ibukota sepi

“ini anggaran tak bertuan …”
dengan lidah cemar mengulum misi
meminang pengantin generasi bertubi-tubi
dalam estafet tunas korupsi.

rumput dan perdu-perdu ikut tersipu malu
dikenai pasal-pasal beringas cahaya
depan tribun peradabanmu.

Iklan

30 Mei 2010 Posted by | Puisi | | 2 Komentar

Sungai Urban

Sungai Urban

akukah kampung yang kaurindu
saat datang bayang-bayangmu mengalirkan sungai kegelapan
di antara batu-batu hati nan terancam padam
tinggal sebidang rancang urban yang ditelan kekerdilan.

tatapanmu meranggas di rumpun bambu
berdesak-desak mengeja tebing waktu
turutkan angin mengantar mega-mega puith
menganyam derai rindu berkalang hujan letih.

adalah garis-garis masa lalu
mengubur deras mimpi para penghuni
mengalirkan riuh peradaban yang pongah
ke laut peradaban yang tergusur zaman.

sungai itu
semakin sendiri

26 Mei 2010 Posted by | Puisi | | 3 Komentar

anggrek ungu

awalnya mega-mega biru.

rebah cahaya ke ruang jingga.

anggrek ungu cuma satu kata yang membisu.

masih terseduh di cakrawala.

malam dirajam gerimis muram.

bintang berebut sunyi ke bait rindu.

tetes tetes hujan laiknya virus jalanan.

menyeret tiap jendela sepi ke dalam deru.

satu dua jalur mengubur kelam. semburat cahaya timur jingga meraya. memulai hitungan jarak meluncur pelan. jangan biarkan subuhmu mesra kehilangan selera.

bukan kegelapan yang nyelinap ke dalam
subuhmu. tetapi abjad dunia yang pernah terucap di sebuah pagi. bukan kepergian menyesali dirimu. tetapi bayangan wajahmu yang terus melekat di hati.

kabut lengang berbisik mengalam pikiran. merayap kelu ayat ayat bisu di relung hati. kulihat dirimu di antara bayang-bayang kekerdilan. hingga setitik cahaya mulai tercemar dalam peradaban maknawi.

beberapa menit kemudian rembulan menimang rindu. menitipkan asa dan frasa malam kepada cemara yang bisu. semakin jauh kautinggalkan, semakin berat kerinduan yang membebani pikiran.

wahai angin yang setia bersalam. bukakan aku sebuah pintu. agar dapat kutulis sebuah kalam. hingga mimpi bertaut merenggut rindu

22 Mei 2010 Posted by | Puisi | | 6 Komentar