Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Balada Cemara

Balada Cemara

cemara lahir dari rahim sunyi
berkawan tajuk nyanyian sufi

pagimu mekar riuh bergetar
sayap rantingmu meranggas hampa
ladang-ladang hati kian terkapar
dirajam buritan berebut peta
satu demi satu
memburu cahaya senja

angin berhenti di cakrawala
cemara lelah menanti iba
berdesak desak alunan jiwa
melempar pandang semata merdeka
merenggut usia satria dewasa
berkelana
menjelajah generasi demi generasi

cemara kuyu merindu
senyum pecundang ditendang tendang
nganga luka melubang pedih
terbuang rasa jalang menimpa
terbaring asa
semakin rendah

cemara sunyi kelam membumi
bersorak gerimis menampar bunga bunga
sejak sepi semakin sepi
begitu seterusnya tanpa titik henti

Purworejo, 27 April 2010

Iklan

27 April 2010 - Posted by | Puisi |

5 Komentar

  1. Nice poem….cemara seakan bercerita…..salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/26/tragedi-taksaka/

    Komentar oleh Thomas | 27 April 2010

    • wow … thanks for tour respons to my poem. Turutprihatin atas tragedi taksaka – mu …. maaf tadi cuma sampai di gerbang wordpress tulisan – mu terbaru : Tragedi monopause??? hehe … kembali salam.

      Komentar oleh Riyadi | 29 April 2010

      • it’s oke…nggak apa2….maaf baru reply nih. KEmarin saya sempat absent buka blog. Ada kesibukan. Btw puisimu mengingatkan saya pada sebuah lagu, judulnya meniti hutan cemara punya Katon. Keren.

        salam.

        Komentar oleh Thomas | 30 April 2010

  2. Tiga Bocahku, Eidel, Cadas, dan Bintang,…
    Jika saja ada kesempatan untuk menimang
    anak perempuan lagi, aku telah menyiapkan sebuah nama :
    Cemara.
    Salam….

    Komentar oleh iin syah | 1 Mei 2010

  3. Menikmati puisi Anda ini, saya jadi teringat saat duduk dihutan cemara sepanjang jalan tembus ke Samigaluh di wilayah Purworejo. Kugauli pucuk-pucuk cemara yang waktu itu membisu, hanya menari ditingkah sang bayu. Namun kini telah bercerita kepada Anda.Kabarkan kepada saya, apa saja yang dia ceritakan……Thank’s

    Komentar oleh Narwan, S.Pd. | 10 Mei 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: