Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Purworejo Ditelan Hujan

Deru pecundang kembali bergema lantang.
Barikade angin berontak menampar nampar malam.
Garis garis hujan tak henti merajam jalanan.
Kutatap dirimu terkapar dalam genangan rindu yang mencekam.
Rimbun gelap menyekap tanah tanah jejak malam.
Wahai laut siapa kini berlabuh di jalanan.
Sungai rindu pun tak kuasa menahan genangan.
Kulihat dirimu terseret arus semakin dalam.
Bayang bayangmu kini terjarah.
Gelisah malam mulai liar mendinding.
Di antara butir butir hati yang gundah,
dirimu terkapar pada sebuah doa mini… yang tak sudah.

Iklan

4 April 2010 - Posted by | Puisi |

3 Komentar

  1. Di Kudus, Pak, hingga hari ini sejak beberapa hari yang lalu belum turun hujan sedahsyat di kota Bapak, seperti yang tersirat dalam puisi “Purworejo Ditelan Hujan”. Semoga kondisi tetap kondusif. Salam kekerabatan.

    Komentar oleh Sungkowo | 5 April 2010

  2. Hujan menelan
    deru pecundang lantang
    tapi doa minimu memang tak sudah
    aku mendengar jelas
    dalam kenang bayang dan genang air

    Komentar oleh rini intama | 10 April 2010

  3. …tak sudah
    sudahkanlah
    meski tetap tak membendung semua alirannya,…
    salam kenal.. 🙂

    Komentar oleh iin syah | 16 April 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: