Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Balada Cemara

Balada Cemara

cemara lahir dari rahim sunyi
berkawan tajuk nyanyian sufi

pagimu mekar riuh bergetar
sayap rantingmu meranggas hampa
ladang-ladang hati kian terkapar
dirajam buritan berebut peta
satu demi satu
memburu cahaya senja

angin berhenti di cakrawala
cemara lelah menanti iba
berdesak desak alunan jiwa
melempar pandang semata merdeka
merenggut usia satria dewasa
berkelana
menjelajah generasi demi generasi

cemara kuyu merindu
senyum pecundang ditendang tendang
nganga luka melubang pedih
terbuang rasa jalang menimpa
terbaring asa
semakin rendah

cemara sunyi kelam membumi
bersorak gerimis menampar bunga bunga
sejak sepi semakin sepi
begitu seterusnya tanpa titik henti

Purworejo, 27 April 2010

27 April 2010 Posted by | Puisi | | 5 Komentar

KARTINI

KARTINI

gerimis riuh menebang malam
pagimu datang tak berpeta
di antara reruntuhan peradaban kelam
kemana jasamu menimang bangsa

engkaukah bintangku yang hilang
saat transaksi ricuh di pasar pagi
dirimu berpesta dengan nasib sendiri
di antara kodrat dan harapan – kartini

angin tiada berjalan
kutipan-kutipan ayat pun jadi suram
bulan kehilangan cahaya rindunya
ia nyelinap di antara mega mega kelam

bulan sungguh menahan malu
atas titipan rindu yang kusampaikan
kini entah berapa malam berlalu
semata wayang terkapar hanya penantian

kini terpancar dalam dunia
kegelapan diri tiba-tiba tanpa hati
menyekap luka demi luka menyeret jiwa entah kemana
mendung ini

sejak pagi hati pun terkurung sepi
jembatan ilusi begitu panjang dan sunyi
seberkas cahaya menebang belantara
mengerdip bening menyeret hati

tatapanmu  merindu

21 April 2010 Posted by | Puisi | | Komentar Dinonaktifkan pada KARTINI

Mega – Mega Liar

Mega – Mega Liar

mega-mega liar tertiup angin semakin nanar

membumi rebah ratapan rindu mengendap pedih

jalan tunggu menebing gusar hati berdebar

deru melaju teriak  datang beralih-alih

mengetuk dinding malam mengikis jendela kelam

terantuk beku kantuk membatu menyibak pintu

bulan temaram menahan gegas tiap jendela

mengabarkan getar bintang-bintang


bersama
, … kegelapan menjadi terang
lenyap pulalah abjad abjad kebohongan

mimpi sumbang saling sambung bersulang seling
selinbgkuh seru ayat-ayat kejujuran melintas perdu

tabik

begitulah salamku yang pertama
menggelitik
menggeliat
menggoda
meronta

wahai
juntrung kelana ajakan setia
berkoar
berkobar
berkibarlah

bersama untuk semua
begitu senantiasa.


12 April 2010 Posted by | Puisi | | 1 Komentar