Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Unjuk Rasa

UNJUK RASA

Demi pertigaan yang lama menyemak pikiran, kuungkapkan saja ke dalam bait-bait kerinduan. Demi langkah pulang yang lama menyemut di kaki, kuselonjorkan saja rasaku ke dalam frasa-frasa rindu. Demi ladang-ladang yang lama menimbun harapan, kusemaikan saja ke dalam benih-benih kasihmu.

Bilik rindu yang kuhuni sudah ribuan waktu ini, terasa semakin usang berkerudung sarang sepi. Hari-hari dilingkupi hutan jati, tiada pandang lepas ke kanan dan ke kiri. Di belakang berayun langit melinang bukit dengan airmata-airmata sufi. Di depan melaut samodra kehidupan berarak ombak serta merta memberontak.

Kampung rindu ini gemulai di tengah keajaiban bukit. Memandang ke bawah gamang semata curam, melangit pun kuncup menerjal kerucut. Keliling kanan kiri dan belakang bukit-bukit tak terhitung jumlahnya merimbun kalang. Ke depan menatap cakrawala pandang menyeberang samudera lengkung pelangi tak tergadaikan.

Senja peradaban yang sunyi menyekat waktu siang dan malam, menari bayang kemilau jingga kemerahan yang mesra, terkapar …

Malam menamparnya dengan tepuk legam hingga sunyi remuk redam, menghitamkan segala harapan dengan desah yang terputus-putus. Gemeretak sesekali ada yang datang kukira hewan pemangsa malam yang menjalankan kodratnya mencari. Liukan perut lengket lapar keseharian kadang menepis lubang pernafasan yang menahan debaran rasa tidak karuan. Beriring lagu kematian yang putus asa tertahan-tahan pula.

Puncak kegelapan malam terkapar dikejutkan kokok kokok ayam hutam bersahutan menyambut pagi. Dini hari sepi dingin berkutat dalam gigilan selimut langit yang rontog mengembunkkan dedaunan dan reranting. Mimpi keji di beranda sunyi terjebak irama burung bernyanyi.

Unjuk rasa tanpa henti hingga pagi menari-nari. Dendang sunyi menyambut takdir terasa pikir meluncur pergi. Aromanya harum mawar melati menyejuk jiwa terbit mentari. Jangan dikata musuh telah pergi usai revolusi, sebab mereka mekar di dalam diri.

Iklan

24 Maret 2010 - Posted by | Puisi |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: