Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Kidung Minggu Pagi

Kidung Minggu Pagi

 

Membumi bukan kelam.

Bening sungai mengalunkan kidung perjalanan.

Menebing bukan curam.

Bawah tanah masih sisa dinding harapan.

 

Menelusuri kedalaman hati, terasa jejak setapak masih alami.

Seruak embun tanpa teriak, lepas terkapar dalam gigilan.

Mendaki pandang terjerat, gelimang gamang melintang pikiran.

Sisir peradaban bertubi hujan, tetesannya gema melengking.

 

Keranda duri mengusung jiwa, berserah diri ke ujung masa.

Bergeming karang luka membatu, selaksa jiwa iba mendamba.

Kampung terjal berhuni kianat, mencabik mata enggan berdebat.

Berkidung lolong keramat, jelaga bumi terpanggang bara.

 

Siul tegak sunyi.

Membukit semakin silam.

Kidung Minggu pagi.

Alam menjerit sebelum kelam.

 

Purworejo, 21 Maret 2010


 

 


 

Iklan

21 Maret 2010 - Posted by | Puisi |

2 Komentar

  1. kidung pagimu menyenandung…
    jangan biarkan menghilang
    senandungkan saja terus !!
    kearah tanah bumi yang membasah katamu
    selipkan diantara jari harapan

    wah puisimu keren lho !!

    Komentar oleh rini intama | 21 Maret 2010

    • we… kata bukan sabda mbak Rini…
      cuma setitik debu di antara buritan sajakmu
      terima kasih kunjunganmu…
      seperti menabur mawar mekar di blogku
      semoga ada angin rindu ….
      bukan karena kesasar salah klik …
      hehe … salam…..

      Komentar oleh Riyadi | 24 Maret 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: