Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Saksi Alami

Saksi Alami

awalnya dering telepon menyeret kantukku ke beranda
sangkaku kau datang mengundang kepingan rindu
ternyata petir menampar mega-mega kelam
pecah langit hujan berhamburan

lenyap mimpi-mimpi tertunda
diguyur kelebat cahaya merdeka
guntur menggembala
memangsakan kilat-kilat tajamnya

inikah rindumu
kau putuskan tali-tali kekangan jiwa
liar mengejar kampung kampung jelata
dirimu bagai raja di tiap jendela

entah berapa jiwa telah terdampar di bawah kaki
entah berapa sunyi telah terkapar ke sudut bumi
hanya engkau saksi alami
yang mengerti bahasa maknawi.

Purworejo, 5 Maret 2010

Iklan

5 Maret 2010 - Posted by | Puisi |

2 Komentar

  1. Selama ini, di kampung kami, Kudus -wilayah yang penuh dengan asap rokok karena banyak perusahaan rokok- kiriman air mata semesta tak begitu sering. Rupanya agak berbeda di wilayah Bapak. Bersyukur karena saudara-saudara kita di sini yang memiliki profesi petani hidup penuh ahrapan. Salam.

    Komentar oleh Sungkowoastro | 6 Maret 2010

  2. selamat siang pak, selamat berkarya..

    Komentar oleh yudairza | 13 Maret 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: