Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Mbah Jurang

Suatu sore saya berjalan-jalan bukan di Malioboro, tetapi di Jalan Buntu Purworejo. Benarkah memang ada jalan buntu? Benar, ada. Dan di Purworejo sangat populer sejak dulu. Teringat tahun 76 juga. Maka saya berhenti sejenak di tempat yang dahulu terpasang portal buntu, penghabisan aspal waktu itu. Posisi sekarang lurus dengan Jalan K.H.A. Dahlan (Kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo) ke arah selatan. Meski sekarang kebuntuan itu nyaris tak ada tanda-tandanya lagi, namun masih terasa kecuraman jalan lanjutannya. Berujung hampir sebuah jurang. Ya di pertigaan penghabisan jalan aspal itu ada warung menempel hampir di jurang bila dilihat dari belakangnya.  Dahulu warung itu terkenal dengan istilah “Mbah Jurang”, dan di warung itu saya dan teman-teman sebaya biasa mangkal dan membeli jajan. Ada bakwan, gedhang goreng, tape goreng, gethuk goreng, dll. Lha gethuk goreng ini yang mengaitkan nama kadang menjadi “Gethuk Mbah Jurang”.

Warung Mbah Jurang ini menghadap ke arah matahari terbit. Tanpa pelataran, sebab depannya cuma drainase dan jalan. Di sebelah kanannya sudut tikungan berliukan pohon bambu, di kirinya semak belukar memagar pohon paku baja. Di belakangnya tak dapat dipandang mata, sebab tanah mendinding bukit berimpit rumpun bambu, tetapi memang ada jalan setapak yang “limit” yang biasa saya dan teman-teman lewati dengan merayap manakala jam-jam istirahat sekolah berlaku.

Awalnya (1976) di atas warung Mbah Jurang ini saya biasa mengikuti upacara pengibaran bendera rutin tiap hari Senin pagi, dan Upacara Pembukaan Latihan Pramuka rutin tiap Jum’at sore. Sembari menuntut ilmu pada hari-hari pelajaran yang bukan Minggu. Jejak tempat belajarku (sekolahan)  dan lapangan di atas warung Mbah Jurang itu terasa “limit” ada jalan setapak yang primitif.

Teman-teman sebayaku waktu itu berasal dari berbagai penjuru Purworejo. Ada yang asli anak Plaosan sekitar Mbah Jurang, ada yang dari Baledono, Brengkelan, Mranti, Madyo Kusuman, Sindurjan, Doplang, Pangenrejo, Borokulon, Popongan, Cengkawakrejo, Mangunan, Borowetan, Kedungsari, Wonoroto, Semawung, Cangkreplor, Cangkrepkidul, Tambakrejo, Sidorejo, Sidomulyo, Karangrejo, Trirejo, Sejiwan, Loano, Maron, dll. (Kalau ada teman sebaya yang merasa belum saya sebut desanya segera tunjuk jari).

Guru Bahasa Indonesia saya seorang yang “gentlement”, beliau piawai benar mengajari kami gaya berbahasa. Sayang beliau kini sudah almarhum.  Terakhir Bapak ini sebagai Kepala SMP Setia Budi Loano. Kami hanya bisa mengenang saja, tetapi masih terasa benar pelajaran beliau sangat akrab di telinga tua ini. Salah satu pegawai tata usaha sekolah kami juga seorang yang mahir berbahasa Ingggris. Aku ingat beliau pernah mengajarkan 16 Tenses bahasa Inggris sampai kami hafal di luar kepala, meskipun waktu itu beliau hanya tata usaha tetapi teladannya cara mengajarnya terasa pas hingga kami takmampu melupakannya. Terakhir ibu ini mengajar di SMP Negeri 1 Purworejo, dan ketika saya tulis cerita ini beliau dalam proses mengurus pensiun.

Sore ini di bekas portal buntu ini kulihat gedung sekolahku kini disarang burung-burung. Mereka beterbangan tak dapat kutanya tentang riwayatnya, apalagi satu persatu. Sembari bertahan untuk segera, depan Mbah Jurang mataku menatap pandang. Meski dalam tatap terasa asing, tapi perasaanku begitu dekat, bahkan lekat dengan warung ini. Banyak yang ingin kukatakan lagi, tetapi jalan ini tak buntu lagi. Dan perjalanan masih panjang yang harus kulanjuti.

Iklan

3 Maret 2010 - Posted by | Cerpen |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: