Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Kang Sastro Tokoh Imajiner

Empat puluh hari setelah terkubur kegelapan, Kang Sastro bangkit lagi. Di kehidupan berikutnya ia tetap tak berubah visi. Sebagai pernah dipekikkan oleh Bung Karno : “Sepak terjang seseorang akan kembali kepada kepribadian yang mendasari jiwanya”.

Akulah Kang Sastro tokoh imajiner di balik kubur mimpi.  Jangan bangkitkan lagi amarahku. Aku merindumu sebagai jiwaku. Aku menyapamu sebagai diriku. Sungguh taknyaman sembunyi di liang mimpi. Gelap tanpa tatap. Mata mengabur. Bumi terus uzur menggugur.

Biarkan aku bangun lagi. menganyam rindu pada mimpi-mimpi pagi. Memberi siul pada embun yang ikhlas lepas dielus matahari.

kata temanku : “Kudoakan agar matamu tak buta membaca abjad dunia. Kudoakan agar telingamu taktuli mendengar sabda nabi”. Temanku itu memang penyair sufi. Dan aku mengagumi. maka biarkan aku hidup bersamamu. Berilah aku kesempatan lagi. Bukan sekali, tetapi berulang-kali. Berulang-ulang dan berkali-kali.

Manakala pagiku tiba, seperti puisi kartini : “beri aku bunga melati, yang mekar di lubuk hati”. Lubuk hatiku pun luas, bukan seluas matahari, tetapi seluas matahati, seluas pula matakaki. Maka aku kan melangkah ke mana-mana, tak lupa membawa hati.

Aku juga ingin bicara. Agar mulutku tak kelu mendengar dongengmu.  Dongeng jejak di negeri entah. Jalan menuju tiada berpeta. Dihadang malaikat bertanya pula … Wahai manusia siapakah Tuhanmu. Wahai umat siapakah nabimu. Lorong-lorong itu harus dijawab. Dengan benar dan bertanggung jawab.

Mata-mata penghuni cinta. Kutemui di jagat semesta. Lewat mawar merah bermekaran pula. Kemana mekarmu aku ingin bertemu. Memandangi nasib jagat kelana. mengitari dunia bukan sekedar maya. Kepadamu kutitip saran. Cintailah sesama manusia.

Operasi Seroja yang pernah kujaga. Mengingatkan diri pada Seruni. Senandungnya menganyam rindu. Menuju senja bumi perkasa. Tertimbun malam tanpa kata-kata.

Suara siapa pernah menyapa. Penyair Online juga pabriknya. Syair-syairnya membumi kala. Menyeret jiwa ke medan jaga. Kita berbaris untuk siaga. Menuju kubur sebelum dipendam. Siapkan segala tarian jiwa. Mengikis kutuk membuang kantuk. Maka malam berubah selera menjadi pagi yang bening semata.

Putri Nadiva juga cerita. Tentang gelembung informatika. Menyeberangi lautan global. Mendekatkan yang jauh-jauh. Mengakrabkan yang sudah dekat.

Sungguh indah rasa berbagi, maka biarkan aku di sini.

Iklan

15 Februari 2010 - Posted by | Cerpen |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: