Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Menatapmu aku jadi malu

menatap diri lewat derai hujan
memacu kuda dengan pekik “merdeka”
wajahmu menghadang di depan
sinarnya silaukan mata

membelok diri lewat jalan pintas
mengejar sudut dengan lirik “merdeka”
lirikanmu mengibas pandangku
dan aku lepas kendali

memutar kuda ke padang senja
membidik curam dengan panah “merdeka”
senyummu melebar menepis gendewa
mengalir sunyi ke bibir sungai

Betapa diriku terjatuh
dalam pekik merdeka tanpa kata
Menatapmu aku jadi malu
Kaupun berlalu tanpa kata.

Iklan

15 Februari 2010 Posted by | Puisi | | Komentar Dinonaktifkan pada Menatapmu aku jadi malu

Kang Sastro Tokoh Imajiner

Empat puluh hari setelah terkubur kegelapan, Kang Sastro bangkit lagi. Di kehidupan berikutnya ia tetap tak berubah visi. Sebagai pernah dipekikkan oleh Bung Karno : “Sepak terjang seseorang akan kembali kepada kepribadian yang mendasari jiwanya”.

Akulah Kang Sastro tokoh imajiner di balik kubur mimpi.  Jangan bangkitkan lagi amarahku. Aku merindumu sebagai jiwaku. Aku menyapamu sebagai diriku. Sungguh taknyaman sembunyi di liang mimpi. Gelap tanpa tatap. Mata mengabur. Bumi terus uzur menggugur.

Biarkan aku bangun lagi. menganyam rindu pada mimpi-mimpi pagi. Memberi siul pada embun yang ikhlas lepas dielus matahari.

kata temanku : “Kudoakan agar matamu tak buta membaca abjad dunia. Kudoakan agar telingamu taktuli mendengar sabda nabi”. Temanku itu memang penyair sufi. Dan aku mengagumi. maka biarkan aku hidup bersamamu. Berilah aku kesempatan lagi. Bukan sekali, tetapi berulang-kali. Berulang-ulang dan berkali-kali.

Manakala pagiku tiba, seperti puisi kartini : “beri aku bunga melati, yang mekar di lubuk hati”. Lubuk hatiku pun luas, bukan seluas matahari, tetapi seluas matahati, seluas pula matakaki. Maka aku kan melangkah ke mana-mana, tak lupa membawa hati.

Aku juga ingin bicara. Agar mulutku tak kelu mendengar dongengmu.  Dongeng jejak di negeri entah. Jalan menuju tiada berpeta. Dihadang malaikat bertanya pula … Wahai manusia siapakah Tuhanmu. Wahai umat siapakah nabimu. Lorong-lorong itu harus dijawab. Dengan benar dan bertanggung jawab.

Mata-mata penghuni cinta. Kutemui di jagat semesta. Lewat mawar merah bermekaran pula. Kemana mekarmu aku ingin bertemu. Memandangi nasib jagat kelana. mengitari dunia bukan sekedar maya. Kepadamu kutitip saran. Cintailah sesama manusia.

Operasi Seroja yang pernah kujaga. Mengingatkan diri pada Seruni. Senandungnya menganyam rindu. Menuju senja bumi perkasa. Tertimbun malam tanpa kata-kata.

Suara siapa pernah menyapa. Penyair Online juga pabriknya. Syair-syairnya membumi kala. Menyeret jiwa ke medan jaga. Kita berbaris untuk siaga. Menuju kubur sebelum dipendam. Siapkan segala tarian jiwa. Mengikis kutuk membuang kantuk. Maka malam berubah selera menjadi pagi yang bening semata.

Putri Nadiva juga cerita. Tentang gelembung informatika. Menyeberangi lautan global. Mendekatkan yang jauh-jauh. Mengakrabkan yang sudah dekat.

Sungguh indah rasa berbagi, maka biarkan aku di sini.

15 Februari 2010 Posted by | Cerpen | | Komentar Dinonaktifkan pada Kang Sastro Tokoh Imajiner

Jaladara Jiwa

Jaladara (2)

hari hari berbunga merah

meratapi tumpahan darah

kilat cahaya menembus pagar pagar

muka demi muka hangus terbakar.

hari hari berbunga kuning

gelora jiwa berkeping keping

luka hati belumlah kering

datang amarah menampar kuping.

hari hari berbunga putih

mekar melati kemana perginya

bekal cahaya pudar semata

menanti dirimu tiada sua.

hari hari berbunga biru

pekik jiwa tetap merindu

menyapa diri rasa tak tentu

berpaling gundah arwah cintamu.

hari-hari berbunga jingga

depan kerumun menyaji jiwa

jejak embun menimang raga

bias cahaya lepas seketika.

hari-hari berbunga kenari

riuh ombak membentang bahari

mendampar busa ikhlasnya hati

kembali sunyi ke alam mimpi.

hari-hari berbunga pandan

akarnya keras liuk memendam

cantikmu lepas berdandan

memikat hati menimang dendam.

15 Februari 2010 Posted by | Puisi | , | Komentar Dinonaktifkan pada Jaladara Jiwa