Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Suara Suara

Suara Suara

suara suara siang bersambung sumbang

membayang petang  gelimang kerja

berbaring di kubur matahari

membintang tatap tanpa istirahat

pintu pintu tanpa nama

ketukannya selalu sia sia

jarak pandang liar sepinya

mengusik jejak merindu sapa

harus kemanakah arah perginya ….

menebar gelap di kubur kelam.

pergi pun menyandung luka.

derai kidung mendinding dzikir.

tahajjud melepas mimpi.

kiranya indah peraduan semata…

Iklan

13 Februari 2010 Posted by | Puisi | | 2 Komentar

Buai Angin

Terasa benar amarahku meluap di buai angin
menabur laknat jalanan keparat pada dirimu yang berkhianat
retak rindu berantakan hatiku
kutendang dunia sampai membola

Buai angin tak keruan juntrungnya
lunglai pertama memandang kering
meleset pula menangkap bola
kembali ke kaki kutendang lagi
entah kini kemana rindunya….

(retak-retak hati dan kering itu menemukan jawabnya pada puisi Shinta Miranda. Aku merasa puisi di bawah ini menjawabnya dengan mesra. Lembut penuh kesabaran semata. Maka kusimpan catatan Mbak Shinta biar suatu saat kelak kubaca lagi, manakali hati risau berjumpa lagi. Terima kasih Mbak Shinta telah mengijinkannya).

Setelah Angin
Puisi : Shinta Miranda
(Dari Notes Facebook Hari Sabtu, 13 Febr 2010 jam 8:21)

di tanah ini angin menari-nari
dedaunan kering berjatuhan
melihat angin bergirangan
tak perduli tanah kekeringan

angin tak pernah bersedih
meski tanah retak tak bertapak
dia cuma singgah lalu diam
di tempat tinggal perenungan

di sini hari-hari lewat saja
di bawah mandi jarum matahari
saat datang malam, bulan gundul
kunang-kunang jatuh ke tanah

mati

13 Februari 2010 Posted by | Puisi | | 1 Komentar