Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Lagu Cinta

Lagu Cinta

 

pada lenyap bayang wajahmu, kutabur mawar perindu. pada rindu langit terangmu, kutautkan hatiku …

………………………………………

pada deras hujan dan lajunya angin kutelusuri jalan pulang. menuju pematang malam membawa kenangan saat saat indah bersamamu. … betapa jalanan gelap merimba … jerit tumbang pepohonan membentang percik gelimang … segala perdu melati mawar lenyap ke lubuk hati. meratapi perhentian

 

jalan kini berujung garis garis hujan. dan kesendirianku melawat ke sisi sisi gelap malam. aku takpeduli dunia maya ada canda. kutetapkan hati bergeming pada rasa takut yang mulai menyelimut.

sulit kupercaya bahwa ini spontanitas yang nyata. pematang malam yang sejak kecil aku ditimangnya dengan penuh kasih, tiada sinyal terang membuka jalan pulang.

di depan tetap membujur rasa waspada. beruntung di belakang ada roda terhenti pula. kampungku kini berpenghuni baru. peronda waktu yang tak kukenal sejak dulu. hanya dengan isyarat kami saling bersapa … mencurah hujan menghening kaca.

ku masih setia menunggu hati baja. pada ruang dan waktu yang semakin sempit saja. di luar musim belum berubah rupa. jalanan kini mendrainase. mengalur jejak sungai baru. mengaliri ladang ladang rindu.

kembali dari kubur ayahnda, aku masih menimang raga. meski di jagat maya ada pertanda, betapa sulit menyaksikannya. hujan masih pula merenda cinta. pada bias kaca kecil yang jadul semata. kutimang berita kawanan jalang malam. sulit kugambar ke dalam jiwa. laknatnya berbaur detak aneka rupa.

obor … obor … obor … nuansa kampung mulai terbaca. berebut cinta kenangan lama. saatnya kubuka mata, membalas cinta orang orang desa. doh … hati berelus dada. mereka suka berpayung daun. payung kebesaran alami yang mereka miliki untuk berbakti. betapa mereka berebut rasa, membantu sesama penuh ikhlas pula. lantas hatiku memiliki apa.

………………………………………

 

Aku masih berpikir aneka rupa. Juga bercinta dengan kenangan lama. Tapi rindu tak karuan juntrungnya, suaranya kabur ke medan hujan, berbaur ronta geliat malam. Berjanji pun hati tak kuasa, ingkarnya lahirkan laknat kesumat. Binatang jalang bersaksi diri, meski diam dalam gigilan, entah berapa rasa lengkingnya tertunda.

 

Bias kecil dunia maya kembali meronta, meminta sinyal tak kunjung tiba. Beruntung jalur telah memberi harapan, untuk menimang rembulan dan cakrawala. Geliat roda mengendus bumi, antara kampung malam dan pasar pagi.

 

Paska peluk sapa jalinan perkara, kutinggalkan mereka di hutan jiwa. Hatipun melaju melayang pilu.

 

***

Iklan

28 Januari 2010 - Posted by | Cerpen |

2 Komentar

  1. berkunjung kerumahmu kang sastro mendengarkan lagu cinta

    Komentar oleh SANG HUJAN | 28 Januari 2010

  2. terhanyuuuut….. lumat rata rasaku…..

    Top abis kang…..

    Komentar oleh xitalho | 30 Januari 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: