Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Kubawa Mereka ke Medan Dongeng

Kubawa Mereka ke Medan Dongeng

A. Latar Belakang Masalah
Anak-anak sangat merindukan dongeng. Betapa tidak, perubahan dunia kerja yang memacu para orang tua bekerja seharian tidak menyisakan banyak waktu istirahat pada sore atau malam harinya. Bahkan tidak sedikit orang tua yang pulang ke rumah setelah larut malam. Tanpa disadari perubahan budaya kerja di kalangan orang tua berdampak pula kepada renggangnya kedekatan hati orang tua terhadap anak-anaknya. Banyak orang tua tidak sempat lagi bercerita kepada anak-anaknya, baik itu cerita tentang pengalaman maupun sekedar dongeng menjelang tidur. Mereka (anak-anak) sudah sangat jarang mendapatkan gambaran identitas diri secara langsung dalam “medan cerita”.
Merujuk pada gagasan tersebut, maka bukan suatu hal yang mustahil tatkala diperdengarkan kepada anak-anak sebuah dongeng oleh guru di sekolah, mereka sangat antusias mendengarkan. Sebagaimana kita ketahui bahwa antusiasme dan ketertarikan para peserta didik ini menjadi peluang bagus untuk dijadikan model pembelajaran. Di samping itu, salah satu rekan pendidik telah menyarankan kepada diri saya untuk menggunakan model pembelajaran dongeng karena melalui dongeng.
Kepada siswa sekolah dasar masih memungkinkan diceritakan sebuah dongeng secara tradisional, yaitu guru bercerita langsung di depan peserta didik. Hal ini karena tingkat “kepatuhan” siswa sekolah dasar terhadap apa yang dikatakan guru masih relatif tinggi, meskipun dampak negatifnya kadang menimbulkan banyak verbalisme. Namun, di SMP atau SMA peserta didik sudah bertaraf kritis.
Dongeng tidak dapat disampaikan secara langsung terhadap peserta didik di SMP atau SMA, karena mereka (peserta didik SMP, atau SMA) tidak lagi dapat “ditipu” oleh perkataan guru yang tanpa bukti. Untuk memberikan rangsangan kritis maka guru dapat menggunakan model pembelajaran yang lebih riil dalam bentuk visual auditif atau tampilan audio visual multimedia. Dengan dongeng dalam tampilan multimedia peserta setingkat SMP atau SMA akan menjadi lebih tertarik. Ketertarikan peserta didik dalam mendengarkan isi dongeng juga didukung oleh realita yang dapat dilihat melalui gambar dalam tampilan. Dengan ini guru dapat meramu segala kompetensi yang hendak dicapaikan kepada peserta didik ke dalam materi pembelajaran melalui isi dongeng.
Permasalahan : Dapatkah peserta didik menguasai kompetensi dasar melalui model pembelajaran dongeng?

Dongeng tidak dapat disampaikan secara langsung terhadap peserta didik di SMP atau SMA, karena mereka (peserta didik SMP, atau SMA) tidak lagi dapat “ditipu” oleh perkataan guru yang tanpa bukti. Untuk memberikan rangsangan kritis maka guru dapat menggunakan model pembelajaran yang lebih riil dalam bentuk visual auditif atau tampilan audio visual multimedia. Dengan dongeng dalam tampilan multimedia peserta setingkat SMP atau SMA akan menjadi lebih tertarik. Ketertarikan peserta didik dalam mendengarkan isi dongeng juga didukung oleh realita yang dapat dilihat melalui gambar dalam tampilan. Dengan ini guru dapat meramu segala kompetensi yang hendak dicapaikan kepada peserta didik ke dalam materi pembelajaran melalui isi dongeng.
Permasalahan : Dapatkah peserta didik menguasai kompetensi dasar melalui model pembelajaran dongeng?

B. Pembahasan
Ketercapaian kompetensi peserta didik dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran dongeng relatif meningkat, yaitu mencapai rata-rata 75% atau 10% di atas Kriteria Ketuntasan Minimal dalam pembelajaran secara umum.

C. Simpulan
Model Pembelajaran Dongeng tidak hanya digunakan dalam mencapai kompetensi materi mata pelajaran Bahasa Indonesia saja, melainkan dapat juga digunakan untuk mencapai kompetensi mata pelajaran yang lain, seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, dan IPS.

(Naskah ini sekedar ringkasan saja – selengkapnya akan saya uploadkan paska lomba)

Iklan

19 Januari 2010 - Posted by | Artikel |

1 Komentar

  1. ni makalah ya..
    koq judulnya aneh

    Komentar oleh Nova Imoet | 19 Januari 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: