Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Mengubur Masalalu

MENGUBUR MASALALU

Oleh Kwek Li Na

Perlahan kubuka lagi, penutup peti. Untuk terakhir kali ingin kutatap sekali lagi semua. Sungguh sedih rasanya…meski berpisah dengan masalaluku.

Masih terlihat jelas di situ. Kisah-kisah ceria kita, sapa penuh cintamu yang menggoda jiwaku. Kukira semua itu bukan hanya sebuah dongeng yang kau peran begitu sempurna yang tujuan akhirnya untuk menyakitiku.

Suara-suaramu, seakan masih bergema di telingaku, yang menyatakan kerinduan, disaksi rintik hujan dan suara padat kendaraan yang berkeliaran di kotamu.

Aroma cintamu, pun masih melekat di nafasku.

Perlahan kututup peti mati masalaluku. Akan kukubur semuanya di sepetak tanah cinta. Di mana ia setiap malam akan di sentuh cahaya bintang biru. Dan berharap tatkala halintar menyambar sekalian membakar segala kepedihan di dadaku.

Kisah kita mati mendadak, entah karena apa. Mungkin saja jantungan karena banyak kejadian dunia yang sulit di terima ataukah saluran darah tersumbat karena dinginnya cuaca rasa.

Ya mungkin lebih baik begini, daripada mengalami stroke atau sakit yang mencipta perih bagi yang melihatnya.

Kumasukan juga 100 puisi yang pernah kujanjikan untukmu, yang kutulis dengan pena cinta tentang kita. Lalu kutabur melati di atasnya. Puisi adalah saksi kisah yang pernah ada. Melati berarti cintaku padamu memang sederhana namun semua makna yang kupunya menghiasnya. Meskipun hatiku dari segumpal darah merah, namun cinta ini putih adanya.

Peti masalalu, kini telah dalam tanah. Masalalu tertimbun di sana.

Kuseka air mata yang tersisa. Tak ada yang perlu di tangisi. Pertemuan dan perpisahan, sebenarnya sama, tergantung di belahan mana jiwa kita sembunyikan luka ini.

Taiwan, 16 Januari 2010

Iklan

16 Januari 2010 - Posted by | Cerpen |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: