Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Seruling Rindu

Bertaut ke Tanah Bagelen Tempo Doeloe entah berapa pasang mata memandangiku. Grogi juga melewati dataran pegunungan kecil yang satu ini. Salemba! Pikirku. Tetapi bukan, tentu bukan. Bukit kecil bagian barat pegunungan Menoreh ini menjerat serangkaian kenangan masa kecil. Mulai dari pohon duku sampai pohon durian milik tetangga. Semuanya menahan kata untuk menceritakan masa laluku. Sonet! Pikirnya. Eh, bukan. Itu Si Kemo yang slirang-sliring menghampiri buavita dulu kan?
Si Kemo tetap melenggang ia menjurus langkah ke suatu tujuan pada perkampungan yang lebih dalam.
“Kang agak cepat hari mulai gelap nich”. Si Kemo seperti lari saja tanpa peduli ajakannya padaku.
Demi melihat jarak langkah yang semakin jauh dari Si Kemo aku beranggap santai. Kupandangi kembali serangkaian pohon sepanjang tepian jalanan yang hampir sebuah gang ini. Gang pegunungan kalau tak boleh dikatakan jalan setapak. Tiba – tiba tatapku tertarik pada sebuah pohon kelapa yang berliuk. “Gajah Muling” Pikirku. Benarkah ia masih hidup setua ini. Bukankah ketika aku masih kecil ia telah tua bangka. Betapa Tuhan memberi karunia hidup panjang pada pohon yang satu ini. “Tabik Mbah” kataku spontan. Ini mengandung reflek kebiasaan yang diajarkan Mbah Dollah semasa kecilku. Bila melewati pohon ini aku diwajibkan bertabik oleh simbah. Meski simbah sudah almarhumah hatiku masih juga bergetar mengingat nasihatnya.

……………….
Si Kemo tak tampak lagi… cerita ini bakal kulanjutkan nanti.
Kemooooooo tungguuuuuuu

Iklan

1 Januari 2010 - Posted by | Cerpen |

2 Komentar

  1. Pembukaane mirip kayak karya-karyane ciptaningtyas..,jian fasih banget nek kon nulis ngene kie..

    Kemooooooooonnn..lanjutkaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnn.. 😀

    Komentar oleh SanG BaYAnG | 2 Januari 2010

  2. jian..pinter men nek nulis ngene kie..,mbokyo kulo di ajari to Pak.. 😉

    Komentar oleh SanG BaYAnG | 2 Januari 2010


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: