Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

PELUNCURAN ANTOLOGI PUISI KOPISISA 2009

kklk“KAKILANGIT KESUMBA”Riyadi
Peristiwa “SOEMPAH PEMOEDA” 28 Oktober 1928 adalah salah satu tonggak sejarah Bangsa Indonesia yang tidak saja membuahkan kesepakatan penting bahwa Bahasa Indonesia sebagai “Bahasa Persatuan”, namun sekaligus juga merupakan sarana dan media ekspresi budaya yang berwujud kesusasteraan Indonesia. Dari sanalah kemudian lahir nama-nama Sutan Takdir alisyahbana, Amir Hamzah, Armyn Pane, HAMKA, Chairil Anwar, hingga kritikus “Paus Sastra” HB. Jassin. Bahkan juga komponis patriotik WR. Supratman, H. Mutahar, Koesbini, Cornel Simanjuntak, Ismail Marzuki dan lain-lain.

Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan karya-karya sastra lokal berkembang dengan pesat, namun karena berbagai keterbatasan sastra lokal masih belum tersosialisasi dan diapresiasi oleh masyarakat termasuk di dunia pendidikan.

Untuk itulah, maka KOPISISA yang setiap tahun meluncurkan Antologi karya sastrawan lokal terdorong untuk menyelenggarakan Seminar tentang “Karya Sastra Lokal sebagai Media Pembelajaran Sastra di Sekolah”.

PENDAFTARAN DAN KONTRIBUSI :
1. Pendaftaran dibuka sejak brosur dan selebaran serta pengumuman
ini ditampilkan sampai dengan menjelang pelaksanaan di Sekretariat
Panitia d.a. Kantor DP Kab. KORPRI Purworejo Jl. Setia Budi 3 Purworejo
atau di 88.5 FM IRAMA (RSPD) Purworejo, Jl. A. Yani Purworejo
2. Kontribusi Peserta sebesar Rp 40.000,00 (empat puluh ribu rupiah)
dibayarkan pada saat pendaftaran
3. Fasilitas berupa 1 buah buku Antologi “KAKILANGIT KESUMBA”, Makalah
Seminar, Piagam, dan Konsumsi

PEMBICARA :
1. ATAS DANUSUBROTO
(Wartawan, Sastrawan, Novelis Penerima Hadiah Sastra RANCAGE 2009
atas karya Novel Bahasa Jawa “TRAH”
2. Drs. WIJAYA HERU SANTOSA, M.Pd.
(Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Peneliti Sastra Universitas
Muhammadiyah Purworejo)

JADWAL :
1. 08.00 – 09.45 Registrasi
2. 09.45 – 10.45 Pembukaan dan Peluncuran Antologi
“KAKILANGIT KESUMBA” oleh Bupati Purworejo
3. 10.45 – 11.00 Jeda Selingan baca Puisi dan Musikalisasi Puisi oleh
Sanggar Musik “SERAMBI” Bagelen
4. 11.00 – 13.30 Seminar
5. 13.30 – 14.00 Penutupan

Iklan

26 Oktober 2009 Posted by | Agenda | | Komentar Dinonaktifkan pada PELUNCURAN ANTOLOGI PUISI KOPISISA 2009

Menulis itu Perlu, Terlebih Bagi Seorang Guru

Menulis itu Perlu, Terlebih Bagi Seorang Guru

ERiyadintah sudah berapa predikat disandang oleh guru dan sudah terdengar di mana-mana, antara lain ‘Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’,’Guru Pendidik’, ‘Guru Pengajar’, ‘Guru Pustakawan’, ‘Guru Laboran’, ‘Guru Peneliti’, ‘Guru Penulis’, dan sebagainya. Pada predikat “Guru Penulis” tentu tidak mutlak harus diartikan bahwa guru harus seorang penulis. Namun demikian, guru memang harus bisa menulis manakala ia tidak ingin ketinggalan diri dari predikat guru profesional.
Hampir setiap kegiatan pengembangan profesi guru membutuhkan pengungkapan kreativitas dalam bentuk tulisan. Simak saja bentuk pengembangan profesi yang disarankan untuk dilakukan guru antara lain :
1. Karya Tulis Ilmiah (KTI)
2. Menemukan Teknologi Tepat Guna
3. Membuat Alat Pelajaran/Alat Peraga/Alat Bimbingan
4. Menciptakan Karya Seni
5. Mengikuti Kegiatan Pengembangan Kurikulum
Kelima hal pengembangan profesi tersebut, menuntut keterampilan guru dalam menulis. Karya tulis ilmiah jelas merupakan lingkup pengungkapan gagasan ilmiah teoretik dan metodologik dalam bentuk tertulis. Menemukan teknologi tepat guna membutuhkan paparan teknis dan mekanis sebagai panduan agar dapat dipahami proses teknik dan mekaniknya. Panduan teknis dan mekanis untuk saat ini masih cenderung dicari bentuk tertulisnya, sehingga penemuan teknologi tepat guna di dunia pendidikan maupun di luar pagar pendidikan menuntut guru menyusun panduan teknis dan mekanis tersebut secara tertulis. Membuat alat pelajaran/alat peraga pun juga demikian. Alat pelajaran/alat peraga akan dapat digunakan dan bermanfaat apabila dideskripsikan proses penggunaannya. Mendeskripsikan tata cara penggunaan alat pelajaran/alat peraga menuntut kemahiran pembuatnya dalam keterampilan menulis. Menciptakan karya seni memang sebuah panggilan jiwa yang muncul dari proses kreatif sebagai perwujudan cipta, rasa, dan karsa. Dalam pengembangan profesi guru karya seni yang disarankan antara lain karya seni monumental. Hal ini tidak ubahnya seperti penemuan teknologi tepat guna, yaitu membutuhkan panduan untuk memahami baik proses kreatif maupun proses apresiatifnya. Panduan memahami proses kreatif maupun proses apresiatif ini pun menuntut keterampilan guru dalam menulis. Demikian pula mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum – menuntut keterampilan guru dalam mengungkapkan gagasan secara tertulis.
Di antara kelima bentuk pengembangan profesi yang paling dekat dijamah guru adalah Karya Tulis Ilmiah. Titik kedekatan ini pun hanya karena jika dibandingkan dengan keempat bentuk yang lain lebih memungkinkan. Dalam buku petunjuk pengembangan profesi guru terkait penilaian angka kredit jabatan guru ada tujuh bentuk karya ilmiah yang dapat diakui sebagai hak karya guru, yaitu :
1. Karya Tulis Ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi.
2. Karya Tulis Ilmiah yang merupakan tinjauan atau gagasan sendiri dalam bidang pendidikan.
3. Karya Tulis Ilmiah yang berupa tulisan populer yang disebarkan melalui media massa.
4. Karya Tulis Ilmiah yang berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan ilmiah yang disampaikan sebagai prasaran dalam pertemuan ilmiah.
5. Karya Tulis Ilmiah yang berupa buku pelajaran
6. Karya Tulis Ilmiah yang berupa diktat pelajaran.
7. Karya Tulis Ilmiah yang berupa karya terjemahan.
Ketujuh bentuk karya tulis ilmiah tersebut merupakan lingkup pengungkapan gagasan ilmiah dalam bentuk tertulis yang selama ini masih asing di mata guru. Keterasingan sebagian besar guru dari tujuh bentuk karya ilmiah yang dapat diakui sebagai hak karya pengembangan profesi ini antara lain karena guru belum terbiasa menulis.
Banyak pula hal yang keseharian dilakukan oleh guru dan merupakan kegiatan pengembangan profesi, tetapi tidak dapat dibuktikan secara tertulis, sehingga tidak terbukti pula karya pengembangan profesinya. Sebagai contoh : (1) guru menjabarkan kurikulum standar isi ke dalam silabus dengan menyesuaikan kondisi peserta didik di suatu sekolah. Sudah tentu ini sebuah proses panjang yang disertai data kondisi peserta didik secara klasikal maupun individual. Setelah silabus jadi, dokumen tertulis tentang proses panjang itu pun tidak terdeskripsikan. Banyak guru dapat menunjukkan silabusnya, tetapi sulit menunjukkan proses pembuatannya; (2) guru menganalisis hasil evaluasi belajar peserta didik – sampai endingnya melakukan kegiatan pembelajaran remedial atau pengayaan – dokumen yang mudah dijumpai hanyalah pengisian daftar nilai terkait dengan ketercapaian KKM. Proses analisis hasil evaluasi belajar sampai pelaksanaan pembelajaran remedial ini pun banyak yang tidak terdeskripsikan dalam bentuk tertulis. Kedua hal ini hanyalah contoh kecil kegiatan keseharian guru yang dilingkupi dengan objek tulisan, tetapi jarang guru yang menuliskannya.
Menulis memang bukan skala prioritas pertama dalam pekerjaan guru, tetapi pengembangan profesi guru menuntut keberadaan tulisan-tulisan dari guru, sedikitnya dalam tujuh bentuk karya tulis ilmiah sebagaimana tersebut di atas. Alangkah ‘afdol’-nya manakala guru di samping melakukan pekerjaan sesuai kompetensi guru juga melakukan kegiatan menulis.

26 Oktober 2009 Posted by | Artikel | | Komentar Dinonaktifkan pada Menulis itu Perlu, Terlebih Bagi Seorang Guru

Refleksi Sertifikasi Guru

Workshop - Refleksi Sertifikasi Guru

Refleksi Profesionalitas Guru Tersertifikasi Angkatan 2006 – 2007 Kabupaten Purworejo merupakan kerja bareng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo dengan UNY alhamdulillah terlaksana lancar-lancar saja. Workshop ini merupakan langkah nyata pengembangan keprofesionalan guru secara berkelanjutan. Presenter tunggal Bapak Paidi Hw dari UNY memaparkan gambaran lengkap tentang makna guru sebagai profesi di depan sekitar 40 orang guru yang mewakili sertifikan angkatan 2006 – 2007.

sekitar 40 peserta refleksi sertifikasiPaidi Hw., M.Pd. presenter dari UNY
Paidi Hw., M.Pd. presenter dari UNY

Pada prinsipnya sertifikasi guru dalam jabatan mengawali era baru dalam “derita” panjang wajah pendidikan nasional, sebagai salah satu implementasi dari delapan standar pendidikan nasional khususnya standar pendidik. Menurut Paidi Hw. Makna guru sebagai profesi adalah (1) menuntut kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan – saat ini minimal S1; (2) memerlukan standar kompetensi tertentu – kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional; (3) menuntut bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; (4) memberikan pekerjaan yang merupakan hak sekaligus kewajiban; (5) memberikan penghasilan yang cukup – menghidupi; (6) memiliki/memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya; (7) memiliki kode etik profesi; (8) organisasinya berbadan hukum; dan (9) menuntut dan sekaligus memberikan kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan.
Paidi Hw. menegaskan ulang 24 butir kompetensi seorang guru sebagai amanat dari Undang-Undang Guru dan Dosen, yaitu :

KOMPETENSI PEDAGOGIS (10 butir)
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidikk.
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
10. Melakukan tindakan reflektif untuk peneingkatan kualitas pembelajaran.

KOMPETENSI KEPRIBADIAN (5 butir)
11. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
12. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
13. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
14. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
15. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

KOMPETENSI SOSIAL (4 butir)
16. Bersikap inklusif , bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
17. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
18. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
19. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

KOMPETENSI PROFESIONAL (5 butir)
20. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
21. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.
22. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
23. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
24. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Terhadap sertifikat pendidik yang dimiliki seorang guru saat ini beliau memaknainya merupakan bukti/pengakuan penguasaan standar kompetensi minimal. Sekali lagi masih minimal. Bukti diperolehnya hak atas penghasilan yang layak sebagai orang profesional dalam pendidikan. Belum/bukan merupakan bukti atas kepemilikan perilaku profesional (karena model pelaksanaan sertifikasi yang ada). Di samping itu juga belum mempunyai kekuatan hukum mutlak (masih perlu dikontrol/dibina lembaga otoritas – karena sifat badan hukum asosiasi profesinya – misalnya Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia “AGUPENA” – yang belum mapan.

Sacara ilustratif faktor penentu kualitas keprofesionalan guru sebagai berikut :

Faktor Pendukung Guru Profesional
Faktor Penentu Guru Profesional

Refleksi Profesionalitas Guru Tersertifikasi Angkatan 2006 – 2007 Kabupaten Purworejo juga hanya sebagian kecil sampling pengembangan keprofesionalan guru secara berkelanjutan. Alternatif lain cara pengembangan profesi dapat dilakukan melalui KKG/PKG/MGMP, seminar/workshop oleh asosiasi atau instansi relevan, melakukan PTK, mengikuti lesson study, aktif membaca jurnal/berkala ilmiah, dan mengakses informasi perkembangan ilmu via internet atau media informasi yang lain, dan menulis karya ilmiah.

Dalam kesempatan itu pula Paidi Hw yang juga pakar lesson study berkenan meluruskan beberapa pokok kegiatan lesson study antara lain : (1) tidak selalu riset based, yang penting ada motivasi; (2) belajar pada suatu praktik pembelajaran; (3) merupakan inisiatif suatu sekolah; dan (4) merupakan wahana belajar bagi para guru. Adapun, tahapan dan praktik dalam lesson study adalah : (i) Planning atau “Plan” – peningkatan kesiapan materi, metodologi, dsb. – pembuatan perangkat pembelajaran – dan ujicoba; (ii) Implementing atau populer disebut sebagai “Do” adalah tahap pelaksanaan dan monitoring/observasi; (iii) Reflecting atau “See” adalah tahap diskusi, sharing, dan rekomendasi.
Pada akhir handout Paidi Hw. mendeskripsikan tentang guru efektif yang menggambarkan seorang guru profesional paska sertifikasi guru dalam jabatan antara lain : (1) mampu melaksanakan pembelajaran secara benar; (2) menghasilkan iklim kelas – yang kondusif yang ditandai dengan ciri-ciri : (a) kemampuan hubungan interpersonal (empati, menghargai siswa sebagai pribadi, ketulusan), (b) mempunyai hubungan yang baik dengan siswa, (c) kemampuan mengekpresikan minat dan antusiasme, (d) memiliki kepedulian dengan siswa, (e) kemampuan menciptakan kerja sama, (f) melibatkan siswa dalam perencanaan perencanaan kegiatan belajar, (g) menghargai dan memperhatikan sungguh – sungguh jawaban siswa, dan (h) meminimalkan konflik; (3) menekankan pada tujuan akademik dan afektif; (4) mengorganisasi diri dengan baik; (5) menguasai bidang ilmu yang diajarkan; (6) memberikan pengalaman belajar siswa dengan baik; (6) mengajar ‘tidak asal siswa sibuk’ tetapi dengan tugas yang jelas dan menguntungkan siswa; (7) memaksimalkan waktu belajar; dan (8) melakukan monitoring pelaksanaan dan aktivitas belajar.

Harapan yang tersirat dalam workshop – refleksi sertifikasi guru ini adalah mengajak guru yang telah lulus sertifikasi guru dalam jabatan untuk terus mengembangkan keprofesionalannya dan mengembangkan diri dengan melakukan hal – hal yang nyata dapat menjadikan diri seorang guru profesional antara lain melakukan membaca, mengisi temu kolegalitas dengan kegiatan akademik, memahami aturan kebijakan pendidikan, menuliskan pengalaman kinerja, srawung ilmiah dan profesional, menerapkan pengalaman baru (hasil ikut seminar) untuk membelajarkan siswa, menggunakan potensi lingkungan sebagai laboratorium, jujur dan hilangkan sikap formalitas serta ikut – ikutan, mengubah diri, memperbaiki rencana pembelajaran, mencoba variasi proses belajar, dan menghargai hasil belajar dari semua aspek.

22 Oktober 2009 Posted by | Artikel | | Komentar Dinonaktifkan pada Refleksi Sertifikasi Guru