Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Analisis Geguritan

ANALISIS WACANA PUISI JAWA (GEGURITAN)
”RON GARING” KARYA BUDHI SETYAWAN
Tinjauan dari Aspek Gramatikal dan Leksikal serta Segi Konteks Kultural dan Inferensi

oleh : Riyadi

A. Pendahuluan

Puisi Jawa atau disebut geguritan merupakan karya unik sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa. Keunikan tersebut telah muncul sejak masa tenar kepujanggaan agung Ranggawarsita hingga kurun waktu Indonesia merdeka ini. Betapa telah melekat secara kultural dalam kebudayaan Jawa sebagaimana adanya sebelas genre tembang macapat dengan segala keterikatan bentuk gatra maupun guru lagu dan guru wilangan. Tidak jauh berbeda dengan “ekspresi” tembang, naskah geguritan juga muncul secara ekspresif sebagai perwujudan kebebasan bersastra (khususnya sastra Jawa) yang dalam bahasa Indonesia lazim dikategorikan sebagai puisi bebas sebagaimana yang dipelopori oleh penyair Chairil Anwar. Pengertian bebas di sini dalam batas cara atau metode kreativitas, atau yang tidak terikat oleh tatacara pembuatan/penyusunan yang terwujud dalam bahasa pengungkapan.
Dalam sebuah blog di internet yang beralamat di website blogspot (dibawah jaringan Google http://konsultasisawit.blogspot.com terdapat identifikasi singkat tentang penjenisan geguritan berdasarkan jenis yadnya, Adapun pengelompokan geguritan sebagai berikut.
1. Geguritan Dewa Yadnya
2. Geguritan Manusa Yadnya
3. Geguritan Pitra Yadnya

1. Kutipan Geguritan

RON GARING

Wengi sansaya atis
nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan
kang digawa dening angin

prasasat tan kendhat
anggonku kulak warta adol prungu
ananging isih mamring

aku wis pingin cecaketan
obormu kang makantar-kantar
madhangi jangkah lan jagatku

ana ngendi papanmu
lelana tapa brata
tanpa pawarta tanpa swara

aku kadya ron garing
kumleyang kabur kanginan
ing jagat peteng lelimengan

krasa luwih abot
anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep
mlakuku ora mantep

kagubet ribet lan ruwet
adoh saka cahyamu
pedhut ing sakindering pandulu

panjenengan
guruku, sihku, oborku
kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati.

Pengarang: Budhi setyawan

Sumber : http://konsultasisawit.blogspot.com/2011/09/contoh-geguritan-puisi-bahasa-jawa.html (Didownload pada tanggal : 25 November 2011)

2. Sekilas Tentang Geguritan “Ron Garing”
Analisis wacana ini mengambil objek kajian karya sastra geguritan (puisi Jawa) berjudul Ron Garing karya Budhi Setyawan. Sebagaimana telah kami tampilkan dalam kutipan di atas (point 1 – halaman 2) geguritan tersebut terdiri atas delapan bait dan setiap baitnya rata-rata terdapat tiga baris. Adapun jumlah sukukata setiap baris tidaklah sama (berkisar antara empat hingga 20 suku, lagi pula tidak mengacu kepada keterikatan guru wilangan manapun. Tidak persis dengan laiknya sebuah parikan (pantun Jawa) namun secara garis besar ada tergambar secara samar sosok sampiran dan isi. Demikianlah khas beberapa puisi karya Budhi Setyawan termasuk dalam karya geguritannya ini.
Budhi Setyawan, seorang penyair asal Purworejo yang memang banyak berkiprah dalam kreativitas penulisan puisi bahasa Indonesia. Puisi-puisinya telah banyak beredar dan terbit baik di surat kabar majalah maupun di dunia maya (website). Kepenyairan Budhi Setyawan boleh dibilang piawai dalam olah kata. Setiap rangkaian diksinya mampu menggalang kontemplasi dunia pembacanya. Hal yang menarik mengapa kegiatan analisis wacana geguritan ini memilih karya Penyair Budhi Setyawan antara lain karena (i) secara umum karya-karya Budhi Setyawan adalah puisi dalam bahasa Indonesia, tetapi ketika saya mencari geguritan melalui surfing di Google justeru tampilan awalnya dipertemukan geguritan (puisi Jawa) karya Budhi Setyawan; (2) penyair yang kini tinggal di Jakarta ini berasal dari Purworejo, tepatnya di Desa Simbarjaya, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo yang notabene satu daerah dengan penulis analisis; (3) Meski jarang bertemu dalam forum “berbahasa Jawa”, rasanya ada nuansa keindahan tersendiri dalam olah geguritannya; dan (4) layak untuk dikaji dari segi aspek konteks dan inferensinya karena Budhi Setyawan Penyair Purworejo ini saat sekarang sedang menggalang teman-teman penyair yang lain untuk menerbitkan antologi geguritan.
Dari segi isi geguritan Ron Garing menggambarkan sisi religiusitas yang tidak tersampai dalam kehidupan seseorang. Hal ini dapat ditandai dalam bait pertama dan bait kelima sebagai lukisan alam dan suasana yang menyelimuti diri seseorang, seperti Wengi sansaya atis (malam semakin dingin) nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan) kang digawa dening angin (yang dibawa oleh angin). Suasana apresiatif yang mendalam terhadap hadirnya suara gamelan yang mengantar sisi religiusitas dalam batin seseorang untuk menyatakan pengakuan dan pemujaan akan keagungan Tuhan.
Begitu pula dalam bait kelima terasa sekali bahwa sisi religiusitas tersebut menemui kekecewaan hati karena tidak tersampainya maksud hati. aku kadya ron garing (aku seperti daun kering) kumleyang kabur kanginan (melayang-layang terbawa angin) ing jagat peteng lelimengan (di alam gelap yang sangat pekat) ini menggambarkan perasaan berdosa seseorang karena merasa kurang dalam beribadah, atau sejenisnya.
Proses “pencarian” yang senantiasa berakhir hampa sangat terasa bila dicermati pada bait isi yaitu bait kedua, ketiga, dan keempat. Seolah lukisan alam pada bait pertama menjadi simbol (semacam sampiran dalam parikan – pantun Jawa). Begitu pula bait kelima menjadi lambang “alami – sampiran” akan isi pada bait keenam, ketujuh, dan kedelapan. Adapun isi hati yang tercurah pada bagian kedua ini merupakan sisi berat kelanjutan proses “penemuan” jati diri yang semakin menjadi nuansa khayali.

3. Sistematika Pemaparan
Pemaparan analisis wacana geguritan ini akan mengikuti sistematika sebagai berikut. Pertama-tama akan dikemukakan analisis wacana dari aspek gramatikal (kohesi gramatikal) dilanjutkan dengan analisis wacana dari aspek leksikal (kohesi leksikal). Dua segi aspek analisis ini diharapkan dapat member gambaran mengenai realitas makna yang terealisasikan melalui peranti-peranti wacana secara lebih rinci. Kemudian pada bagian selanjutnya, berturut-turut akan disampaikan analisis konteks, baik konteks kultural maupun konteks situasi. Bagian ini diharapkan melengkapi pemahaman makna wacana secara holistik. Selanjutmnya analisis akan diakhiri dengan simpulan hasil analisis.

B. Analisis Aspek Gramatikal Wacana
Analisis wacana geguritan (puisi Jawa) dari aspek gramatikal atau kohesi gramatikal ini meliputi pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (konjungsi).

1. Pengacuan (Referensi)
Pengacuan (referensi) dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengacuan persona, demonstratif, dan komparatif. Pengacuan persona yang ditemukan dalam puisi ini mencakup persona pertama dan kedua tunggal dalam bentuk bebas maupun terikat. Pengacuan persona dapat diamati pada baris-baris puisi berikut (nomor-nomor di belakang kutipan teks dengan angka arab menunjukkan nomor-nomor baris dalam keseluruhan puisi, sedangkan nomor dengan angka romawi menunjukkan urutan bait).
a. Pengacuan Persona
(1) nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (2/I)

alih bahasa Indonesia : “ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan”

analisis : kata aku dalam teks puisi baris kedua bait I merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk bebas mengacu pada diri sang penyair.

(2) anggonku kulak warta adol prungu (5/II)
alih bahasa Indonesia : “dalam kelanaku mencari kabar berita”

analisis : unsur –ku pada kata anggonku dalam teks puisi baris kelima bait II merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada diri sang penyair.

(3) aku wis pingin cecaketan (7/III)
alih bahasa Indonesia : “aku sudah ingin berdekatan”

analisis : kata aku dalam teks puisi baris ketujuh bait III merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk bebas mengacu pada diri sang penyair.

(4) obormu kang makantar-kantar (8/III)

alih bahasa Indonesia : “sinarmu yang menyala-nyala”

analisis : unsur –mu pada kata obormu dalam teks puisi baris kedelapan bait III merupakan pengacuan referensi persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada sosok yang dipuja oleh sang penyair (Tuhan).

(5) madhangi jangkah lan jagatku (9/III)
alih bahasa Indonesia : “menerangi langkah dan duniaku”

analisis : unsur –ku pada kata jagatku dalam teks puisi baris kesembilan bait III ini merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada diri sang penyair.

(6) ana ngendi papanmu (10/IV)
alih bahasa Indonesia : “di mana tempatmu”

analisis : unsur –mu pada kata papanmu dalam teks puisi baris kesepuluh bait IV ini merupakan pengacuan referensi persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada sosok yang dipuja oleh sang penyair (Tuhan).

(7) aku kadya ron garing (13/V)
alih bahasa Indonesia : “aku seperti daun kering”

analisis : kata aku dalam teks puisi baris ketiga belas bait V ini merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk bebas mengacu pada diri sang penyair.

(8) anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep (17/VI)

alih bahasa Indonesia : “dalam langkahku menghadapi hari-hari di depan”

analisis : unsur –ku pada kata anggonku dalam teks puisi baris ketujuh belas bait VI ini merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada diri sang penyair.

(9) mlakuku ora mantep (18/VI)

alih bahasa Indonesia : “jalanku tidak mantap”

analisis : unsur –ku pada kata mlakuku dalam teks puisi baris kedelapan belas bait VI ini merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada diri sang penyair.

(10) adoh saka cahyamu (20/VII)

alih bahasa Indonesia : “jauh dari cahyamu”

analisis : unsur –ku pada kata cahyamu dalam teks puisi baris kedua puluh bait VII ini merupakan pengacuan referensi persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada sosok yang dipuja penyair (Tuhan).

(11) panjenengan (22/VIII)
alih bahasa Indonesia : “engkau”

analisis : kata panjenengan dalam teks puisi baris kedua puluh dua bait VIII merupakan pengacuan referensi persona kedua tunggal bentuk bebas mengacu pada sosok yang dipuja oleh penyair.

(12) guruku, sihku, oborku (23/VIII)
alih bahasa Indonesia : “guruku, pemberiku, sinarku”

analisis : unsur –ku pada kata guruku, sihku, dan oborku dalam teks puisi baris kedua puluh tiga bait VIII ini merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada diri sang penyair.

(13) kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati. (24/VIII)
alih bahasa Indonesia : “temanilah sukmaku belajar tentang cinta di dalam hati”

analisis : unsur –ku pada kata sukmaku dalam teks puisi baris kedua puluh empat bait terakhir merupakan pengacuan referensi persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan mengacu pada diri sang penyair.

Bila dicermati dari dua puluh empat larik geguritan “Ron Garing” terdapat tiga belas larik atau separoh lebih satu larik atau 54,17% yang terdapat kohesi gramatikal pengacuan persona. Dari tiga belas pengacuan (referensi) persona tersebut sepuluh larik atau 41,67% berupa pengacuan persona pertama tunggal yang mengacu pada diri sang penyair dan terdapat tiga larik atau 12,50% yang mengandung pengacuan persona kedua tunggal mengacu pada sosok yang dipuja oleh penyair (Tuhan).
Secara umum pemunculan referensi persona pertama dan kedua berbentuk terikat meskipun terdapat juga yang bentuk bebas. Jika diperbandingkan maka persona pertama tunggal lebih banyak daripada persona kedua tunggal baik itu yang bentuk bebas maupun yang bentuk terikat. Ditilik dari penggunaan referensi persona ini dapat ditandai bahwa di dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan terdapat komunikasi antara persona pertama (penyair) dengan persona kedua (yang dipuja oleh penyair – Tuhan).

b. Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif berupa pronomina penunjuk waktu atau tempat. Pronomina demonstratif waktu dapat mengacu pada waktu kini, lampau, waktu yang akan datang, atau waktu netral. Dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” ini terdapat empat larik yang mengandung persona pronomina penunjuk waktu, seperti berikut : (nomor-nomor menunjukkan nomor urutan baris dalam teks puisi).

Wengi sansaya atis (1)

Alih bahasa Indonesia : malam semakin dingin
Analisis : persona demonstratif wengi pada baris pertama geguritan tersebut mengacu pada realita waktu sekarang atau waktu kini, yaitu malam ketika sang penyair mengutarakan gagasan dalam bentuk geguritan ini khususnya mengacu kepada pronomina demostratif sebagaimana tertera pada baris berikutnya (nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan).

nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (2)

Alih bahasa Indonesia : ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan
Analisis : persona demonstratif nalika dalam geguritan “Ron Garing” baris kedua mengacu pada pronomina waktu lampau, yaitu malam ketika sang penyair mengutarakan gagasan dalam bentuk geguritan ini.

aku wis pingin cecaketan (7)

Alih bahasa Indonesia : aku sudah ingin berdekatan
Analisis : persona demonstratif wis dalam geguritan “Ron Garing” baris ketujuh mengacu pada pronomina waktu lampau, yaitu waktu sebelum malam sang penyair mengutarakan gagasan dalam bentuk geguritan ini.

anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep (17)

Alih bahasa Indonesia : dalam diriku menghadapi hari-hari di depan
Analisis : persona demonstratif dina-dina dalam geguritan “Ron Garing” baris ketujuh belas mengacu pada pronomina waktu yang akan datang, yaitu hari-hari setelah sang penyair mengutarakan gagasan dalam bentuk geguritan itu..

Pengacuan demonstratif berupa pronomina penunjuk tempat dapat mengacu tempat dekat iki atau agak jauh sedikit kuwi dan bila jauh kae. Dalam geguritan “Ron Garing” tidak terdapat pronomina penunjuk tempat sebagaimana dimaksud di depan, tetapi ada enam baris yang merujuk pada pronomina demostratif yang mengacu tempat secara eksplisit, seperti berikut : (nomor-nomor menunjukkan nomor urutan baris dalam teks puisi).

nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (2)

Alih bahasa Indonesia : ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan
Analisis : persona demonstratif ing dalam geguritan “Ron Garing” baris kedua mengacu pronomina tempat secara eksplisit.

madhangi jangkah lan jagatku (9)

Alih bahasa Indonesia : menerangi langkah dan duniaku
Analisis : persona demonstratif jagat- dalam geguritan “Ron Garing” baris kesembilan mengacu pronomina tempat secara eksplisit.

ana ngendi papanmu (10)

Alih bahasa Indonesia : di mana tempatmu
Analisis : persona demonstratif ngendi dalam geguritan “Ron Garing” baris kesepuluh mengacu pronomina tempat berupa kata tanya.

anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep (17)

Alih bahasa Indonesia : dalam aku menghadapi hari-hari berikutnya
Analisis : persona demonstratif ing dalam geguritan “Ron Garing” baris ketujuh belas mengacu pronomina tempat secara eksplisit.

pedhut ing sakindering pandulu (21)

Alih bahasa Indonesia : mega di sekitar penglihatan
Analisis : persona demonstratif ing dalam geguritan “Ron Garing” baris kedua puluh satu mengacu pronomina tempat secara eksplisit.

kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati. (24)

Alih bahasa Indonesia : temanilah sukmaku belajar tentang cinta di dalam hati
Analisis : persona demonstratif sajroning dalam geguritan “Ron Garing” baris kedua puluh empat mengacu pronomina tempat secara eksplisit.

c. Pengacuan Komparatif

Pengacuan komparatif atau perbandingan adalah membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripanatau kesamaan bentuk, keadaan, sikap, perilaku, dan sebagainya. Kata –kata bahasa Jawa yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya pindha, kaya, lir, kadya, prasasat yang berarti seperti, bagai, bagaikan, atau laksana. Dalam geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ditemukan dua larik yang mengandung pengacuan komparatif, seperti tuturan berikut : (nomor-nomor menunjukkan nomor urutan baris dalam teks puisi)

prasasat tan kendhat (4)

Alih bahasa Indonesia : bagaikan tidak berhenti
Analisis : kata prasasat dalam geguritan “Ron Garing” baris keempat merupakan pengacuan komparatif mengacu pada perbandingan keadaan.

aku kadya ron garing (13)

Alih bahasa Indonesia : aku seperti daun kering
Analisis : kata kadya dalam geguritan “Ron Garing” baris ketiga belas merupakan pengacuan komparatif mengacu pada perbandingan bentuk (membandingkan diri sang penyair dengan “ron garing”.

Dari uraian tentang referensi terdapat satu hal yang menarik yaitu kata kadya dalam geguritan “Ron Garing” baris ketiga belas tersebut merupakan pengacuan komparatif mengacu pada perbandingan wujud bisa juga ditafsirkan keadaan, atau perilaku, bahkan bisa menggambarkan wujud, keadaan, perilaku, sikap, seseorang pada umumnya atau membandingkan diri sang penyair dengan “ron garing”. Lebih menarik lagi bahwa acuan kata kadya tersebut (ron garing) adalah frase yang sekaligus diangkat sebagai judul dari puisi Jawa tersebut.

2. Penyulihan (Substitusi)
Aspek gramatikal kedua yang mendukung kepaduan wacana geguritan (puisi Jawa) adalah penyulihan (substitusi), yaitu penggantian unsur tertentu dengan unsur yang lain yang mengacu pada realitas yang sama. Dalam geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ditemukan dua larik yang mengandung aspek gramatikal substitusi (penyulihan), yaitu baris kedua puluh dua dan baris kedua puluh tiga yang keduanya terdapat dalam bait kedelapan atau bait terakhir.

panjenengan (22)

guruku, sihku, oborku (23)

Alih bahasa Indonesia : engkau (22)
Alih bahasa Indonesia : guruku, pemberiku, sinarku (23)
Analisis : kata panjenengan dalam geguritan “Ron Garing” baris kedua puluh dua merupakan penyulihan (subsitusi) mengacu pada sosok yang disebut-sebut sebelumnya, yaitu sosok yang disebut tidak pernah ditemukan penyair dalam “pencarian”.
Analisis : begitu pula kata guruku, sihku, oborku dalam geguritan “Ron Garing” baris kedua puluh tiga merupakan penyulihan (subsitusi) mengacu pada sosok yang disebut sebelumnya, yaitu ‘panjenengan’ pada larik kedua puluh dua.

3. Pelesapan (Elipsis)
Pelesapan (elipsis) merupakan salah satu jenis aspek gramatikal yang berupa penghilangan unsur (konstituen) tertentu yang telah disebutkan. Unsur yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa, atau klausa. Dalam teks puisi penghilangan unsur semacam itu sering terjadi, seperti dapat diamati pada tuturan berikut.

kang digawa dening angin (3)
alih bahasa Indonesia : “yang dibawa oleh angin”

prasasat tan kendhat (4)
alih bahasa Indonesia : “sungguh tiada tersampai”

ananging isih mamring (6)
alih bahasa Indonesia : “namun masih senyap”

aku wis pingin cecaketan (7)
alih bahasa Indonesia : “aku sudah ingin berdekatan”

madhangi jangkah lan jagatku (9)
alih bahasa Indonesia : “menerangi langkah dan duniaku”

lelana tapa brata (11)
alih bahasa Indonesia : “mengelana dan bertapa”\

tanpa pawarta tanpa swara (12)
alih bahasa Indonesia : “tiada berita tiada suara”

kumleyang kabur kanginan (14)
alih bahasa Indonesia : “melayang-layang tertiup angin”

ing jagat peteng lelimengan (15)
alih bahasa Indonesia : “di dunia nan gelap pekat”

krasa luwih abot (16)
alih bahasa Indonesia : “terasa lebih berat”

kagubet ribet lan ruwet (19)
alih bahasa Indonesia : “terhambat dan tersendat”

adoh saka cahyamu (20)
alih bahasa Indonesia : “jauh dari cahyamu”

Pada larik-larik puisi tersebut terjadi pelesapan, khususnya pelesapan subjek dan objek yang sebenarnya dapat dirunut atau dilacak kembali subjek atau objek itu pada kalimat-kalimat sebelumnya atau sesudahnya yang berdekatan. Pada tuturan (3), (4), (6), (7), (9), (11), (12), (14), (15), (16), (19), dan (20) subjek yang dilesapkan terdapat pada larik-larik sebelumnya, seperti contohnya larik kedua nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan “ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan”, swara gamelan ‘suara gamelan’ men-subjek-i larik ketiga atau tuturan (3) tersebut. Pada tuturan (7) objek yang dilesapkan terdapat pada larik sesudahnya yaitu larik kedelapan yang berbunyi obormu kang makantar-kantar “sinarmu yang menyala-nyala”.
Pelesapan sebagai salah satu aspek gramatikal pendukung kepaduan wacana itu berfungsi untuk memenuhi kepraktisan dalam bertutur, menghasilkan kalimat yang efektif, menciptakan efisiensi dalam berbahasa, dan bagi pembaca atau mitra tutur dapat berfungsi mengaktifkan pikirannya terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam tuturan.

4. Perangkaian (Konjungsi)
Perangkaian (konjungsi) merupakan salah satu aspek gramatikal yang berfungsi menghubungkan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Perangkaian menyatakan bermacam-macam makna, misalnya menyatakan pertentangan, urutan (sekuensial), sebab-akibat, konsesif, dan sebagainya. Dalam puisi yang dikaji ini juga ditemukan beberapa jenis konjungsi seperti tampak pada tuturan berikut.
nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (2)
alih bahasa Indonesia : “ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan”

kang digawa dening angin (3)
alih bahasa Indonesia : “yang dibawa oleh angin”

prasasat tan kendhat (4)
alih bahasa Indonesia : “sungguh tiada tersampai”

ananging isih mamring (6)
alih bahasa Indonesia : “namun masih senyap”

Kata nalika pada larik (2) merupakan konjungsi menyatakan urutan waktu, sedangkan kata kang pada larik (3) dan kata prasasat pada larik (4) merupakan konjungsi konsesif yang menekankan keadaan. Pada tuturan (6) terdapat konjungsi pertentangan ananging ‘tetapi’. Konjungsi tersebut menyatakan makna pertentangan antara realitas yang seharusnya ada (sosok yang dicari penyair) ‘dipertentangkan’ dengan keberadaan kekosongan (belum diketemukannya sosok tersebut yang ditunjukkan dengan kata mamring.

C. Analisis Aspek Leksikal Wacana
Pada bagian ini akan didiskusikan analisis wacana dari segi aspek leksikalnya, khususnya hubungan antarunsur dalam wacana secara semantik dan leksikal. Aspek leksikal yang dimanfaatkan oleh penyair untuk mendukung kepaduan wacana puisi dapat berupa repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas – bawah), antonimi (lawan kata), dan ekuivalensi (kesepadanan).

1. Repetisi (Pengulangan)
Repetisi (pengulangan) adalah unsur wacana (kata, frasa, klausa) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Gorrys Keraf, 1994 dalam Sumarlam, 2010:71); misalnya untuk menekankan makna unsur tertentu maka dapat dilakukan pengulangan pada awal, tengah, atau akhir baris puisi. Repetisi yang terdapat pada geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ini misalnya tampak pada larik-larik berikut.

anggonku kulak warta adol prungu (5)
alih bahasa Indonesia : “dalam kelanaku mencari kabar berita”

anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep (17)
alih bahasa Indonesia : “dalam kelanaku menghadapi hari-hari mendatang”

Kata anggonku pada tuturan (5) dan tuturan (17) merupakan repetisi anafora, yaitu pengulangan berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris puisi. Pengulangan anafora pada geguritan ini dimaksudkan oleh penyairnya untuk menekankan pentingnya makna kata/frasa yang diulang pada tiap baris puisi tersebut.

2. Sinonimi (Padan Kata)
Sinonimi (padan kata) dilihat dari unsur-unsur bahasa atau kategorinya dapat dibedakan antara sinonimi kata dengan kata, kata dengan frasa atau sebaliknya frasa dengan frasa, dan klausa dengan klausa. Sinonimi yang terdapat pada geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ini misalnya tampak pada larik-larik berikut.

aku kadya ron garing (13)
alih bahasa Indonesia : “aku seperti daun kering”

kumleyang kabur kanginan (14)
alih bahasa Indonesia : “melayang-layang tertiup angin”

obormu kang makantar-kantar (8)
alih bahasa Indonesia : “sinarmu yang menyala-nyala”

adoh saka cahyamu (20)
alih bahasa Indonesia : “jauh dari cahyamu”

Pada tuturan di atas tampak kata garing pada tuturan larik (13) bersinonim dengan kata kumleyang pada tuturan larik (14). Demikian pula kata obormu pada tuturan larik (8) bersinonim dengan kata cahyamu pada tuturan larik (20).
Pemakaian sinonim kata pada baris-baris puisi tersebut dapat mendukung kekohesifan dan kekoherenan sebuah wacana.

3. Antonimi (Lawan Kata)
Antonimi (lawan kata) merupakan sa;lah satu jenis aspek leksikal wacana dengan cara mengoposisikan makna unsur yang satu dengan unsur yang lain. Oposisi makna semacam itu ada yang bersifat kutub, hubungan, hierarkial, dan majemuk. Adapun oposisi makna yang ditemukan dalam geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ini misalnya tampak pada tuturan berikut.
anggonku kulak warta adol prungu (5)
alih bahasa Indonesia : “dalam kelanaku mencari kabar berita”

ananging isih mamring (6)
alih bahasa Indonesia : “namun masih senyap”

aku wis pingin cecaketan (7)
alih bahasa Indonesia : “aku sudah ingin berdekatan”

adoh saka cahyamu (20)
alih bahasa Indonesia : “jauh dari cahyamu”

pedhut ing sakindering pandulu (21)
alih bahasa Indonesia : “penuh mega-mega di sekitar mata”

Dalam tuturan-tuturan di atas dapat ditemukan beberapa macam oposisi sebagai berikut :
(i) Oposisi mutlak : kulak >< pedhut pada tuturan (20) dan tuturan (21)

Kata kulak dan kata adol pada tuturan atau larik (5) terdapat oposisi mutlak, kata isih pada tuturan (6) beroposisi kutub dengan kata wis pada tuturan atau larik (7), dan kata cahya pada tuturan (20) beroposisi hubungan dengan kata pedhut dengan tuturan atau larik (21). Pemakaian antonimi kata pada baris-baris puisi tersebut dapat mendukung kekohesifan dan kekoherenan sebuah wacana.

4. Kolokasi (Sanding Kata)
Kolokasi (sanding kata) adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata dan kata tersebut cenderung digunakan secara berdampingan (bersanding). Dalam teks puisi ini, karena tema atau topik pembicaraannya mengenai liku-liku pencarian sosok (citra tokoh) dalam hubungannya dengan suasana malam hari sebagai bentuk ekspresi jiwa atau isi hati penyairnya, maka yang terdapat pada geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ini banyak kata-kata yang berkaitan dengan ungkapan jiwa atau isi hati dan suasana alam pada waktu malam hari, seperti tampak pada larik-larik berikut.
Wengi sansaya atis (1)
alih bahasa Indonesia : “malam semakin dingin”

kang digawa dening angin (3)
alih bahasa Indonesia : “yang dibawa oleh angin”

ananging isih mamring (6)
alih bahasa Indonesia : “namun masih senyap”

obormu kang makantar-kantar (8)
alih bahasa Indonesia : “sinarmu yang menyala-nyala”

ing jagat peteng lelimengan (15)
alih bahasa Indonesia : “di dunia nan gelap pekat”

adoh saka cahyamu (20)
alih bahasa Indonesia : “jauh dari cahyamu”

pedhut ing sakindering pandulu (21)
alih bahasa Indonesia : “penuh mega-mega di sekitar mata”

Pada tuturan atau larik-larik puisi (1), (3), (6), (8), (15), (20), dan (21) tersebut di atas terdapat kata-kata yang berkolokasi (sanding kata), yaitu wengi ‘malam’, atis ‘dingin’, angin ‘angin’, mamring ‘sepi’, obormu ‘obormu’, peteng lelimengan ‘gelap pekat’, cahyamu ‘cahyamu’, dan pedhut ‘mega-mega’. Kolokasi sebagai salah satu aspek leksikal dapat ikut serta membangun kepaduan wacana puisi.

5. Hiponimi (Hubungan Atas – Bawah)
Hiponimi (hubungan atas – bawah) adalah kata – kata yang maknanya merupakan bagian dari makna kata yang lain yang ,merupakan superordinatnya (hipernim). Dalam puisi “Ron Garing” karya Budhi Setyawan ini hiponimi tercermin pada kata Wengi sansaya atis (1) “malam semakin dingin” ananging isih mamring (6) “namun masih senyap” tanpa pawarta tanpa swara (12) “tiada berita tiada suara” aku kadya ron garing (13) “aku seperti daun kering” kumleyang kabur kanginan (14) “melayang-layang tertiup angin” ing jagat peteng lelimengan (15) “di dunia nan gelap pekat” adoh saka cahyamu (20) “jauh dari cahyamu” pedhut ing sakindering pandulu (21) “penuh mega-mega di sekitar mata”.
Pada tuturan-tuturan tersebut kata-kata atis, mamring, tanpa pawarta tanpa swara, garing, kumleyang, peteng lelimengan, cahya, dan pedhut mengacu pada superordinat atau hipernim kata sunyi dan sepi. Hubungan atas – bawah (hiponimi) sebagai salah satu aspek leksikal dapat ikut serta membangun kepaduan wacana puisi juga.

6. Ekuivalensi (Kesepadanan)
Beberapa kata bentukan sebagai hasil proses afiksasi yang berasal dari bentuk asal sama disebut ekuivalensi. Ekuivalensi juga merupakan salah satu peranti untuk mendukung kepaduan wacana. Ekuivalensi yang terdapat pada geguritan “Ron Garing” karya Budhi Setyawan adalah kata kang digawa dening angin (3) “yang dibawa oleh angin” dan obormu kang makantar-kantar (8) di mana kata-kata bentukan yang mempunyai kesepadanan bentuk asal tersebut secara leksikal mendukung kepaduan makna wacana.

D. Analisis Wacana dari Segi Konteks dan Inferensinya
Analisis konteks ini meliputi baik konteks kultural maupun konteks situasi. Di dalam konteks situasi tercakup konteks fisik, epistemis, dan konteks social, di samping konteks linguistik. Berbagai konteks itu tidak dipisahkan secara tegas sebagaimana memisahkan warna hitam dan putih, melainkan kadang-kadang terjadi tumpang tindih karena memang antara konteks yang satu dengan yang lain saling berkaitan membangun satu kesatuan wacana yang utuh..

1. Konteks Kultural
Bagi masyarakat Jawa, gamelan tidak sekedar seni untuk tontonan, melainkan di dalamnya terkandung sebuah tuntunan hidup. Suara gamelan bukan saja terdengar laiknya orkes yang berirama, melainkan juga terdapat unsur magis yang meneduhkan bagi penikmatnya. Itulah sebabnya manakala seseorang merasa hatinya risau kadang ia bersembunyi di balik suara gamelan (menghilangkan rasa risau dengan mendengarkan suara gamelan), yang dalam istilah Jawa nglaras ‘menikmati’ alunan suara gamelan itu.
Dari larik kedua geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan yang berupa tuturan nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan) dapat ditemukan sebuah konteks budaya Jawa sebagaimana di maksud di atas, yaitu pada kata sesingidan ‘bersembunyi’ sedangkan ‘tempat’ yang dirujuk adalah swara gamelan ‘suara gamelan’, hal ini menunjukkan sebuah karakteristik budaya Jawa nglaras ‘menikmati’ untuk tujuan menghilangkan rasa was-was, resah, risau, dan sejenisnya.
Begitu pula dalam larik-larik bagian akhir dari geguritan puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan terdapat tuturan-tuturan yang menggambarkan kepribadian seorang “Jawa” sebagaimana tuturan berikut.
panjenengan (22)
alih bahasa Indonesia : “engkau”

guruku, sihku, oborku (23)
alih bahasa Indonesia : “guruku, pemberiku, penerangku”

kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati. (24)
alih bahasa Indonesia : “temanilah sukmaku belajar tentang cinta di dalam hati”

Kata panjenengan ‘engkau’ dalam larik (22), guruku, sihku, oborku ‘guruku, pengasihku, oborku’ menunjukkan sikap kepatuhan sang penyair terhadap sosok yang dianggap luhur, sehingga ia (sang penyair) merasa harus tunduk, takut, menghormat, merendah diri, tahu diri, menyerah (pasrah) dan melakukan segala hal yang bias menyenangkan sosok tersebut (Mochtar Lubis, 1988 dalam Sumarlam, 2010:59). Selanjutnya sosok aku (sang penyair) mewujudkan sikap setianya pada sosok luhur tersebut sebagaimana ia menganggapnya sebagai guru dalam mencari dan belajar tentang cinta di dalam hati seperti tuturan pada larik terakhir geguritan tersebut kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati “temanilah sukmaku belajar tentang cinta di dalam hati”.

2. Konteks Situasi
Apabila konteks kultural merupakan dasar bagi pemahaman makna wacana, maka konteks situasi dapat dipandang sebagai pembatas makna. Konteks situasi yang dikaji di sini dibatasi pada konteks fisik, epistemis, dan konteks sosial.
a. Konteks Fisik
Konteks fisik ini meliputi tiga aspek penting, yaitu tempat terjadinya suatu peristiwa, objek atau topik yang dibicarakan, dan tindakan-tindakan para partisipan dalam komunikasi. Realitas situasi yang diungkapkan dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan berupa tempat terjadinya suatu peristiwa (peristiwa, keadaan, proses) seperti tampak pada tuturan sebagai berikut (angka Arab menunjukkan urutan larik/baris geguritan). Wengi sansaya atis (1) “malam semakin dingin” nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (2) “ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan” kang digawa dening angin (3) “yang dibawa oleh angin” ananging isih mamring (6) “namun masih senyap” aku wis pingin cecaketan (7) obormu kang makantar-kantar (8) “sinarmu yang menyala-nyala” madhangi jangkah lan jagatku (9) “menerangi langkah dan duniaku” aku kadya ron garing (13) “aku seperti daun kering” kumleyang kabur kanginan (14) “melayang-layang tertiup angin” ing jagat peteng lelimengan (15) “di dunia nan gelap pekat” kagubet ribet lan ruwet (19) “terhambat dan tersendat” adoh saka cahyamu (20) “jauh dari cahyamu” pedhut ing sakindering pandulu (21) “penuh mega-mega di sekitar mata”

b. Konteks Epistemis
Konteks epistemis berkaitan dengan masalah latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh penutur maupun mitra tutur. Dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan konteks epistemis berupa penggunaan diksi yang metaforik yang ada hampir menyeluruh pada setiap baris puisi. Penggunaan diksi yang berupa tuturan ekspresif sang penyair dengan mitra tutur yang masih dalam pencarian itu antara lain pada larik sebagai berikut (angka arab menunjukkan urutan larik dari puisi tersebut).
nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan (2) “ketika aku bersembunyi di dalam suara gamelan” prasasat tan kendhat (4) “sungguh tiada tersampai” anggonku kulak warta adol prungu (5) “dalam kelanaku mencari kabar berita” aku wis pingin cecaketan (7) “aku sudah ingin berdekatan” ana ngendi papanmu (10) “di mana tinggalmu” aku kadya ron garing (13) “aku seperti daun kering” krasa luwih abot (16) “terasa lebih berat” anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep (17) “dalam kelanaku menghadapi hari-hari mendatang” mlakuku ora mantep (18) “langkahku tidak mantap” adoh saka cahyamu (20) “jauh dari cahyamu” panjenengan (22) “engkau” guruku, sihku, oborku (23) “guruku, pemberiku, penerangku” kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati. (24) “temanilah sukmaku belajar tentang cinta di dalam hati”.

c. Konteks Sosial
Konteks sosial menunjuk pada relasi sosial dan setting yang melengkapi hubungan antara penutur dengan mitra tutur. Dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan konteks sosial berupa tuturan sang Penyair terhadap sosok yang ‘abstrak’ dan masih dalam pencarian. Meskipun demikian sangat jelas bahwa hubungan antara penyair (penutur) dengan sosok mitra tutur merupakan relasi seorang murid terhadap gurunya, atau relasi seorang hamba terhadap majikannya, atau bias juga relasi antara makhluk hidup terhadap Sang Khaliq, seperti tampak pada tuturan berikut : (angka arab menunjukkan urutan larik dari puisi tersebut) prasasat tan kendhat (4) “sungguh tiada tersampai” anggonku kulak warta adol prungu (5) aku wis pingin cecaketan (7) “aku sudah ingin berdekatan” ana ngendi papanmu (10) “di mana tinggalmu” panjenengan (22) “engkau” guruku, sihku, oborku (23) “guruku, pemberiku, penerangku” kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati. (24) “temanilah sukmaku belajar tentang cinta di dalam hati”

3. Inferensi
Inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh komunikan (pembaca/pendengar/mitra tutur) untuk memahami makna yang secara harafiah tidak terdapat dalam wacana yang diungkapkan oleh komunikator (penulis/pembicara/ penutur). Dengan kata lain, inferensi adalah proses memahami makna tuturan sedemikian rupa sehingga sampai pada penyimpulan maksud tuturan. Untuk dapat mengambil inferensi dengan baik/tepat maka komunikan (mitra tutur : pembaca/pendengar) harus memahami konteks dengan baik.
Dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan inferensi tidak terdapat konteks linguistik, sehingga inferensi hanya berupa konteks fisik, konteks epistemis, dan konteks sosial sebagaimana telah diuraikan pada analisis konteks di atas. Konteks fisik sebagaimana realitas situasi yang berupa tempat terjadinya suatu peristiwa (peristiwa, keadaan, proses) seperti tampak pada tuturan (1), (2), (3), (6), (7), (8), (9), (13), (14), (15), (19), (20), dan (21). Sedangkan konteks epistemis tampak pada penggunaan diksi yang berupa tuturan ekspresif sang penyair dengan mitra tutur yang masih dalam pencarian yang tampak pada larik (2), (4), (5), (7), (10), (13), (16), (17), (18), (20), (22), (23), dan (24).
Relasi sosial dan setting yang melengkapi hubungan antara penutur dengan mitra tutur juga terdapat dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan yaitu pada tuturan (4), (5), (7), (10), (22), (23), dan (24). Bila dihitung secara persentase perihal inferensi ini maka dari 24 baris puisi terdapat konteks fisik 13 atau 39,39%, konteks epistemis 13 atau 39,39%, dan konteks sosial 7 atau 21,21%. Keadaan ini lebih jelas dapat digambarkan dalam grafik inferensi di bawah ini.

E. Simpulan
Setelah diadakan analisis geguritan (puisi Jawa) berjudul “Ron Garing” karya Budhi Setyawan, maka dapat diambil simpulan dalam tiga kategori, yaitu : (1) hasil analisis aspek gramatikal; (2) hasil analisis aspek leksikal; dan (3) hasil analisis konteks dan inferensi.

1. Hasil Analisis Aspek Gramatikal
Aspek gramatikal yang dominan dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan adalah pengacuan (Referensi) yaitu sebesar 58,14 % . Aspek gramatikal yang yang lain adalah penyulihan sebesar 4,65 %, pelesapan sebesar 27,91 %, dan perangkaian sebesar 9,30%. Hasil analisis aspek gramatikal tersebut dapat digambarkan dengan grafik sebagai berikut.

2. Hasil Analisis Aspek Leksikal
Aspek leksikal yang dominan dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan adalah Hiponimi (Hubungan atas – bawah) yaitu sebesar 28,57. Aspek leksikal yang yang lain adalah repetisi sebesar 7,14 %, sinonimi sebesar 14,29 %, antonimi sebesar 17,86 %, kolokasi sebesar 25 %, dan ekuivalensi sebesar 7,14%.
3. Hasil Analisis Konteks dan Inferensi
Analisis konteks dan inferensi yang dominan dalam geguritan (puisi Jawa) “Ron Garing” karya Budhi Setyawan adalah konteks fisik dan konteks epistemis yaitu masing-masing sebesar 18,84 % sebagaimana tampak dalam Tabel 3 sebagai berikut.
Akhirnya dapat diambil simpulan secara umum hasil analisis geguritan (puisi Jawa) berjudul “Ron Garing” karya Budhi Setyawan bahwa aspek gramatikal paling dominan adalah pengacuan (referensi) yaitu sebesar 58,14 %, aspek leksikal paling dominan adalah hiponimi yaitu sebesar 28,57 %. Sedangkan dari segi konteks dan inferensi paling dominan pada konteks situasi yaitu sebesar 47,83%.

Daftar Pustaka
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sumarlam. 2010. Teori dan Praktek Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.

21 Desember 2011 - Posted by | Puisi |

3 Komentar

  1. waaaaahhhh saya dapet ilmu baru sastra jawa, ini yang bisa disebut sastra etnik ya mas? yang mengandung unsur unsur ini. makasih share nya mas..salam :) lama tak jumpa ya……kangen euy pengen ngobrol.

    Komentar oleh nanangrusmana | 21 Desember 2011

  2. matur nuwun mas Riyadi.
    jeneng kula inggih saged sinambi ngangsu kawruh wontening seratan panjenengan.
    ing wekdal samangke, kula taksih mandheg anggenipun nggurit.
    mugi kanthi seratan panjenengan punika, saged nggugah wungu kebatosan kula supados kuwagang nggurit ingkang langkung sae.

    salam taklim, Mas Riyadi.

    Komentar oleh budhisetyawan | 22 Desember 2011

  3. geguritan kula sabageyan ing blog kula http://www.budhisetyawan.wordpress.com sawatawis dipunpendhet dhumateng para maos, lan sabageyan njedhul ing blog sanes, sawatawis kanthi nami pengarang ingkang benten utawi tanpa nami pengarangipun.

    bab punika ingkang kagem kula ndadosaken prihatin, ing sanyatanipun taksih kathah priyayi ingkang mboten remen sinau kanthi tekun.
    sumangga panjenengan padosi liwat GOOGLE kanthi nyerat irah2an geguritan kula kados: RON GARING, SUKMA LELANA GUGAT,
    sampun kapajang ing sawatawis blog.

    matur nuwun.

    Komentar oleh budhisetyawan | 22 Desember 2011


Maaf, form komentar ditutup saat ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: