Riyadi's Blog

Menggagas Wacana Guru Blogger

Pembentuk Karakter Berbahasa

ALAM TAKAMBANG JADI GURU

PEMBENTUK KARAKTER BERBAHASA

A.    Pendahuluan

Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Komunikasi akan lancar bila penggunaan bahasa penuturnya baik, tetapi akan terjadi perselisihan apabila bahasa yang digunakan tidak baik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahasa seseorang menunjukkan bangsa. Bahasa akan menunjukkan karakter, watak, pribadi seseorang. Bila bahasa seseorang telah berubah menuju ke arah negatif seperti sarkasme, menghujat memaki, menfitnah, mengejek, melecehkan maka dapat dikatakan karakter seseorang tersebut buruk.

Krisis jati diri bangsa Indonesia yang terjadi sekarang karena perubahan karkateristik pengunaan bahasa masyarakatnya. Hal tersebut dapat diatasi dengan mengembalikan pemahaman masyarakat dalam filsafah alam takambang jadi guru. Alam takambang jadi guru membentuk karakter masyarakat untuk menghargai bahasa dan mengunakan bahasa untuk berkomunikasi yang dilakukan dengan memperhatikan konteks dan dan kategori sosial penutur. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan yang dapat membentuk karakter bangsa melalui bahasa dengan filosofi alam takambang jadi guru.

B.     Pendidikan Karakter Berbahasa

Secara etimologi kata karakter dapat dilacak dari kata Latin, charassein, dan kharax yang maknanya “tools for making” dan “to angrave”. Berikutnya dalam bahasa Indonesia disebut karakter (Wahyudin, dalam Karim, 2010:122). Karakter adalah kebijakan (goodness) dalam arti berpikir baik (thinking good), berperasaan baik (feeling good) dan berperilaku baik (behaving good) dengan demikian karakter akan tampak pada pikiran, perasaan, perbuatan dari manusia (Budimansyah, dalam Karim, 2010:1).

Pembentukan karakter, khususnya karakter berbahasa sangat penting. Manusia yang memiliki karakter berbahasa yang baik akan dapat berkomunikasi dengan baik. Dua faktor penentu karakter manusia tersebut juga berkaitan dengan pembentukan karakter berbahasa nature atau alami, dimana manusia mempunyai tahap pemerolehan bahasa baik dari bayi sampai dewasa. Begitu juga dengan pemembentukan karakter dengan nuture atau sosialisasi. Manusia dapat belajar berbahasa dalam ligkungannya yang disesuaikan dengan konteks pembicaraan. Karakter berbahasa yang dibentuk dari faktor nature dan nuture akan dapat menghasilkan karakter bahasa yang baik yang akhirnya dapat menghasilkan komunikasi yang baik pula.

 

 

C.     Filosofi AlamTakambang jadi Guru dalam Berbahasa

Alam takambang jadi guru merupakan filosofi masyarakat Minangkabau. Alam takambang jadi guru mengajarkan untuk berguru pada alam. Seperti dalam pepatah “Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiak kanyiru. Nan satitik jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru”. Nenek moyang Minangkabau menjadikan sunatullah yang ada di alam sebagai dasar adat Minangkabau (Amir, 2009). Masyarakat Minangkabau mempunyai norma dalam berkomunikasi yang disesuaikan dengan status sosial penutur dan petutur, tatapi tidak mengindikasikan strata bahasa seperti bahasa Jawa dan Sunda, melainkan hanya sebagai etika berbahasa. Norma dalam berkomunikasi yang digunakan masyarakat Minangkabau ada empat yaitu kato mandaki (kata mendaki), kato manurun (kata menurun), kato malereng (kata miring), kato mandata(kata mendatar). Kata mendaki adalah bahasa yang digunakan oleh penutur yang status sosialnya lebih rendah dari petuturnya, seperti bahasa anak kepada orang tuanya. Kata menurun adalah kata yang dipakai oleh penutur yang status sosialnya lebih tinggi dari petuturnya, seperti bahasa yang dipakai guru kepada muridnya. Kata miring adalah bahasa yang digunakan penutur yang sama statusnya sosialnya dengan petuturnya yang sama-sama saling menghargai, seperti bahasa yang dipakai antara sesama menantu dalam sebuah keluarga besar. Kata mendatar adalah bahasa yang digunakan penutur yang status sosialnya sama dan akrab dengan petuturnya, seperti bahasa yang dipakai antara teman dekat yang akrab (Rosa, 2010).

Semua yang ada di alam mempunyai unsur pendidikan baik itu pada manusia, hewan, tumbuhan, air, angin, tanah, dll. Salah satu nilai pendidikan yang terkadung di alam adalah pendidikan berbahasa. Manusia sebagai bagian dari alam juga dapat belajar dengan sesama manusia. Manusia dapat menjalin komunikasi dengan baik sehingga tercipta kehidupan tentram dan damai. Alat komunikasi tersebut adalah bahasa maka manusia diharuskan untuk menggunakan bahasa yang baik. Bahasa yang baik adalah bahasa yang mengandung nilai-nilai pendidikan yang dapat mencerminkan karakter bangsa. Manusia sebagai subjek di alam ini dapat belajar pada bagian alam lainnya, khususnya dalam bebahasa.

Unsur alam lainnya selain manusia adalah hewan. Hewan adalah makhluk tuhan yang tidak memiliki akal, tetapi dapat memberikan pembelajaran pada manusia khususnya dalam berbahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya dilakukan secara verbal, tetapi juga secara nonverbal. Hewan menggunakan bahasa nonverbal dalam berkomunikasi. Hewan-hewan tersebut di antaranya adalah burung, lebah, ikan lumba-lumba, simpanse, kepiting, singa, kucing, anjing, dll. Sistem komunikasi hewan-hewan tersebut berbeda-beda.

Tumbuhan juga tidak berbahasa secara verbal tetapi melalui nonverbal. Hal tersebut terlihat dari gerakannya. Gerakan tumbuhan menunjukkan keadaan alam sekitarnya. Selain itu, tumbuhan menyampaikan pesan secara tersirat pada manusia. Angin mengajarkan manusia untuk peka pada alam. Gerakan angin juga mengandung pesan yang ingin disampaikan. Khusus bagi nelayan gerakan angin sangat penting sebagai tanda untuk mulai bekerja.

D. Simpulan

Pembentukan karakter berbahasa melalui filosofi alam takambang jadi guru dapat diwujudkan pada pengenalan tentang alam sejak dini pada anak. Alam memiliki semua yang dibutuhkan manusia. Alam akan mengajarkan manusia tentang nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai tersebut dapat dipelajari manusia secara langsung tanpa harus ada pendidikan formal. Pengenalan tentang alam pada anak dapat melalui keluarga dan masyarakat. Bila sejak dini anak sudah dikenalkan pada keistimewaan alam maka akan mudah membentuk karakter anak untuk lebih menjaga alam dan melestarikan alam.

Semua yang ada di alam mempunyai unsur pendidikan baik itu pada manusia, hewan, tumbuhan, air, angin, tanah, dll. Salah satu nilai pendidikan yang terkadung di alam adalah pendidikan berbahasa. Manusia mengunakan bahasa verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi, tetapi selain manusia unsur yang terkandung dari alam menggunakan bahasa nonverbal untuk berkomunikasi. Walaupun unsur alam seperti hewan, tumbuhan, air, tanah, dll tersebut menggunakan bahasa nonverbal dan terbatas, manusia juga dapat belajar dari unsur-unsur tersebut. Hewan mengunakan bahasa nonverbalnya dengan bernyanyi, bergerak, dan perpedoman pada bau. Tumbuhan juga menggunakan bahasa nonverbalnya dengan gerakannya. Bahasa yang digunakan di alam pada dasarnya digunakan untuk menyampaikan pesan untuk tetap menjaga alam agar kehidupan dapat berjalan dengan baik, lancar, dan aman.

Alam mengajarkan manusia untuk menggunakan bahasa dalam berkomunikasi dengan memperhatikan unsur-unsur dalam berkomunikasi. Unsur-unsur tersebut diantaranya komunikan, komunikator, konteks, dan topik komunikasi. Manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk sosial yang masih membutuhkan manusia lain dan unsur-unsur alam lainya. Pembelajaran alam yang dibekali sejak dini pada anak akan membuat anak paham akan pentingnya belajar pada alam dan memahami pesan-pesan yang disampaikan alam. Seperti halnya masyarakat Minangkabau yang mempunyai norma dalam berkomunikasi yang menggunakan empat cara, yaitu kato mandaki (kata mendaki), kato manurun (kata menurun), kato malereng (kata miring), kato mandata(kata mendatar). Kata mendaki adalah bahasa yang digunakan oleh penutur yang status sosialnya lebih rendah dari petuturnya, seperti bahasa anak kepada orang tuanya. Kata menurun adalah kata yang dipakai oleh penutur yang status sosialnya lebih tinggi dari petuturnya, seperti bahasa yang dipakai guru kepada muridnya. Kata miring adalah bahasa yang digunakan penutur yang sama statusnya sosialnya dengan petuturnya yang sama-sama saling menghargai, seperti bahasa yang dipakai antara sesama menantu dalam sebuah keluarga besar. Kata mendatar adalah bahasa yang digunakan penutur yang status sosialnya sama dan akrab dengan petuturnya, seperti bahasa yang dipakai antara teman dekat yang akrab.

Apabila manusia sudah dididik untuk mengenal dan menjaga alam sejak dini, maka sejak itulah pembentukan karakter anak dimulai. Karakter untuk belajar pada alam dan memahami bahasa alam baik tersirat maupun tersurat. Jika karakter tersebut telah terbentuk tidak mustahil alam akan bersahabat dengan manusia.

 

Disarikan dari http://bintangkecilungu.wordpress.com/2011/06/13/filosofi-alam-takambang-jadi-guru-sebagai-pembentuk-karakter-berbahasa-oleh-witri-annisa/ untuk kepentingan pribadi

 

5 Februari 2011 - Posted by | Artikel |

Maaf, form komentar ditutup saat ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: